Senin, 22 November 2010

Garut Miliki Prasasti "Batu Tulis"

Meski selama ini banyak dikenal keberadaan batu tulis Bogor bahkan tertulis dalam buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, namun ternyata di Kabupaten Garut, juga terdapat prasasti batu tulis bernilai historis.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat Herman Santoso menyatakan Selasa,
prasasti di Kampung Barukai Desa/Kecamatan Cigedug, diketemukan prasasti “batu tulis” sehingga kawasan tersebut dikenal dengan sebutan Kampung Batu Tulis.

Dengan kondisi bentang alam (geomorfologis) wilayahnya merupakan dataran tinggi bergelombang berketinggian 1.100-1.200 mdpl, yang secara geografis diapit oleh gunung Cikuray sebelah timur dan gunungapi Papandayan di sebelah barat.

Prasasti kampung Bakurai terdapat pada sebidang kebun milik Mohamada Toha, di pinggir ruas jalan kampung berlereng, sebelah barat dari prasasti itu sekitar 100 meter mengalir sungai Cikuray merupakan anak sungai Cimanuk.

Prasasti tersebut terletak pada cekungan sekitar 0,50 m merupakan hasil pengupasan yang dilakukan penduduk pada tahun 1927, yang hingga sekarang masih dikeramatkan warga setempat dan senantiasa dilakukan pembersihan.

Dari serangkaian penelitian menunjukan, prasasti ditulis pada sebongkah batu berbentuk persegi empat dari jenis batuan “andesittik” berukuran 130x170 cm.

Tinggi batu sekitar 15 cm dari permukaan tanah namun kondisi permukaan batu yang ditulisinya tidak rata, dengan teknik penulisan bersistem gores yang tidak begitu dalam dengan huruf Sunda Kuno, katanya.

Prasasti berisi tiga baris tulisan terdiri “bhagi bhagya”, “ka” serta “nu ngaliwat” (Hasan Djafar, 1991 : 16) dengan permukaan terdapat goresan tebal serta dalam, terbagi beberapa kotak.

Berdekatan prasati di sisi barat terdapat lempengan batu berpermukaan rata, lempengan batu tersebut berukuran 85x70 cm setebal 7 cm, yang sampai sekarang belum dapat diidentifiksikan kapan dan siapa yang membuat prasasti tersebut.

Sedangkan kesulitannya akibat tidak didukung oleh temuan-temuan artefak lain, bahkan penduduk sekitarnya juga belum pernah menemukan artefak lainnya seperti fragmen keramik atau gerabah, sehingga hingga kini masih tetap misteri yang belum terjawab sekaligus sebagai tantangan bagi akhli arkeologi serta pakar sejarah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar