Sabtu, 16 Oktober 2010

Masa demokrasi liberal 1945-1958

Masa demokrasi liberal adalah masa lanjutan dari sebuah masa revolusifisik ketika Indonesia mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus. Sedangkan masa revolusi fisik adalah sebuah lanjutan dari sebuah masa pergerakan nasional dan masa pendudukan Jepang. Masa pergerakan nasional adalah masa pembukaan pola pemikiran modern baik pemikiran yang asli Indonesia maupu pemikiran-pemikiran luar. Indonesia yang berkembang pada waktu itu yang kemudian dicerna oleh para elit baru /intelektual Indonesia untuk di jadikan ideologi, rujukan atau sebuah perbandingan untuk meraba memperjuangkan ke depan nasib bangsanya. Dua pengaruh yang sangat signifikan mempengaruhi awal pemikiran para intelektual ini adalah pemikiran pembaharuan Islam
dan Komunisme yang di dalamnya menawarkan ide-ide sosialis untuk mengentalkan nasionalisme Indonesia kelak. Hal ini terlihat dengan berdirinya dua organisasi nasional massa yang besar yakni Sarekat Islam (SI) dan PKI (pecahan dari SI).

Sebenarnya PKI tidak langsung berasal dari SI, melainkan berasal dari organisasi ISDV yang dimulai Sneevliet pada 1917an. Sneevliet sendiri membawa bendera ‘sosial demokrat’ dan marxist.Pada awalnya member dari ISDV ini gak banyak, kebanyakan eurasian.Baru pada 1920an muncul tokoh2 seperti Semaoen dan Tang Malaka yg kemudian
juga masuk ke SI dan kemudian membuat PKI setelah terjadi perpecahan didalamnya.
Setelah pemberontakan 1926 (yg tidak disetujui tan malaka), praktis gerakan ini terhenti karena pemth belanda sangat menghalangi pertumbuhan komunis di Indonesia.
Dalam sejarah selanjutnya, justru kaum “extreme-left” seperti PKI yang paling lantang meyuarakan kemerdekakan Indonesia (hardliner non-cooperative), beda dengan gerakan lain yang co-operative atau tidak langsung menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

( No wonder pada 1966 Bung Karno berkata dari golongan mana yang
paling banyak berkorban untuk kemerdekaan Indonesia).

Refer to this book: the rise of communism in Indonesia (McVey).Adapun pemikiran konservatif tradisional Jawa yang coba bangkit berlindung dibalik Budi Utomo yang
> telah dikuasai kelompok nasionalis Jawa. Kelompok Budi Utomo non-nasionalis Jawa bergabung dengan Indische Partij (IP), SI, Muhamadiyah, dll. Polemik pemikiran antara nasionalisme Jawa diwakili oleh Soetatmo dan nasionalisme Indonesia diwakili oleh Cipto mangunkusumo. Disamping pemikiran berkembangnya ideologi Islam, komunis, tradisional Jawa di Indonesia, pada waktu itu berkembang pula pemikiran nasionalisme oleh mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri Belanda, yaitu kelompok Perhimpunan Indonesia (PI). Kelompok PI sangat dipengaruhi oleh ideologi barat terutama demokrasi tempat mereka belajar.

PI ini pemimpin utamanya adalah Bung Hatta.
Sebenarnya ideologi yang disongsong bukan “ideologi barat” seperti kapitalisme atau bahkan fasisme. Paham yang mereka PI perjuangkan sebenarnya sosial-demokrat yang
menggunakan ekonomi dan teknologi sebagai alat pembangunan. sosial-demokrat ini juga bukan sosial-demokrat ala komunis ; melainkan sosial-demokrat yang juga ada dan berasal dari religious/islam dalam hal ini (karena pengaruh dari bung hatta yang berasal dari keluarga puritan yg menjalankan syariat scr sangat baik di minangkabau).
Ide “koperasi” juga muncul dari sini.

( Indonesia Free, Mohammad Hatta Political Biography by Cornell).

Kalau menurut saya sendiri, pemahaman bung hatta ini yang paling cocok dengan kondisi Indonesia Modern, sometimes i just wish he is the Indonesia first president , pemahaman bung hatta banyak menggunakan rasionalitas berpikir rather than mass agitation/provocation. :)

Tidak semua para intelektual hanya bertolak pemikirannya dengan satu ideologi, banyak diantara mereka mempunyai pemikiran sinkretis/ menggabungkan ideologi-ideologi yang ada. Tokoh itu adalah HOS Cokroaminoto, Tan Malaka, Haji Misbach, Mas Marco lalu Soekarno, dll setelahnya, mereka ini menggabungkan ideolog islam, komunis dan nasionalis untuk Indonesia merdeka kelak melawan kolonialisme dan imper5ialisme Belanda.

Banyak ideologi dan gerakan yang muncul pada 1920an karena gubernur jenderal belanda di era 1920an –saya lupa de jong atau sebelum/sesudahnya)– adalah gubjen yang sangat ‘liberal’ dan permisif dengan kemajuan sosial/politik org Indonesia (atau inlander
istilah mereka). GubJen ini malah kemudian mendapat tekanan dari kerajaan belanda sebenarnya dalam ideologi dan gerakan Indonesia saat itu, bisa dibedakan menjadi dua yaitu cooperative dengan pemth belanda dan non- cooperative. Contoh dari coooperative organization seperti mereka yg bergabung di volksraad, boedi oetomo,dlsb. sedangkan non-cooperative seperti bung karno/PNI/Partino dan Bung Hatta/PI/PNI Baru. refer to: Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia (Ithaca:
Cornell University Press, 1952)

Masa pergerakan nasional adalah masa dimana para intelektual Indonesia meraba-raba sebuah ideologi perjuangan yang sama-sama bersifat nasionalime, namun dengan kadar yang berbeda- beda. Memasuki kedatangan Jepang pemikiran para intelektual berputar pada polemik pada pro dan kontra bekerjasama dengan Fasisme Jepang demi tujuan kemerdekaan Indonesia

Waktu jepang masuk, sebagian besar pimpinan pergerakan nasional Indonesia sedang diasingkan di boven digul atau tanah merah. btw, Bung Hatta pada 1920an dalam satu tulisanya di newsletter PI mengatakan kalau “pacific war is envitable”. Something that’s happened years later. Juga, waktu Jepang masuk. Satu problema muncul di kaum pergerakan, harus bagaimana kita ini, apakah mendukung kolonialisme baru ala
Fascism Jepang ? atau kita harus melangsungkan undergroudn resistance. Hasil pemikirin bung karno, BK berpendapat Jepang akan memenangkan perang WWII sementara bung hatta berpendapat jepang pasti kalah karena kekuatan teknologi militer msh dipegang oleh amerika serikat.
singkat ceritanya bung karno dan bung hatta memilih pendekatan cooperative dengan Jepang.

Masa revolusi Fisik adalah masa dimana pemikiran-pemikiran yang berkembang pada masa pergerakan nasional menguji keampuhannnya dalam rangka patriotisme menghadapi Belanda, yaitu usaha mendapatkan pengakuan kedaulatan. Faksi-faksi yang berkembang membentuk kelompok pro dan kontra berunding Indonesia dengan Belanda. Dua faksi
terbesarpada masa revolusi fisik, yaitu pertama faksi pemerintah yang didukung oleh dwitunggal Soekarno-Hata yang lebih dikenal dengan sayap Kirilalu Persatuan perjuangan (PP) sebagai oposisi pemerintah. Sayap kiri terdiri dari kaum Sosialis Kanan Sjahrir yang dikenal dengan sebutan SosKa lalu kelompok Komunis Gadungan Amir Syarifudin yang dikenal dengan sebutan KomGa (SosKa+KomGa=Partai Sosialis), ditambah dengan Pesindo,PKI, dll. Sedangkan PP terdiri dari komunis nasional Tan Malaka, Hizbullah, dll yang terkenal dengan sebutan kelompok kiri
dari kiri. Diluar kelompok Ini ada dua partai yang mempunyai kekuatan besar, yakni Masyumi sebuah partai federasi dengan ideologi nasionalisme Islam dan PNI dengan ideologi nasionalis Sekuler. Disamping itu ketiga kekuatan pada masa revolusi fisik ada dua kekuatan Dwitunggal Soekarno-Hatta dan tentara. Secara garis besar pada masa revolusi Fisik pemikiran yang berkembang adalah tentang bagaimana cara mendapatkan kedaulatan Indonesia baik dimeja perundingan maupun di medan perang termasuk membentuk tentara regular yang homogen. Tercapainya pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949 dalam Konferensi meja KMB yang selanjutnya dikuti dengan perubahan
> konstitusi Indonesia dari konstitusi RIS menuju UUDS 1950 adalah tonggak diterapkannya demokrasi Liberal di Indonesia. Begitupun
dengan bentuk Negara yang awalnya federal menurut Konstitusi RIS berubah menjadi Republik Kesatuan melalui sebuah mosi integral M. Natsir.
catatan: ketua delegasi belanda di konferensi KMB saat itu mendapatkecaman keras dari kerjaan belanda karena gagal mempertahankan kolonial mereka yg sangat mereka banggakan lebih dari 300 tahun.

Masa demokrasi Liberal peta pemikiran politik Indonesia menunjukkan keheterogenan. Pemikiran yang berkembang adalah seputar tentang moral politik dan militer. Corak dasar dari pemikiran-pemikiran ideologi yang berkembang adalah corak Islamis, komunis, sosialis, yang lebih bersingkretis/kait-mengkait dengan pemikiran-pemikiran lain. Corak dasar pemikiran ini dapat dijadikan ukuran dengan melihat masing-masing pendukung dan aktivis partai-partai politik yang ada. Pemikiran islam Indonesia dibagi atas dua golongan besar, yakni modernis+santri yang diwakili Masyumi dan tradisionalis+abangan yang diwakili NU yang kedua-duanya anti komunis. Islam modernis mendapat pengaruh sosialis dengan ciri khas islam dan bersifat kader sekaligus massa, sedangkan islam tradisionalis mempunyai sifat massa+ kultus individu dan mendapat pengaruh praktek tradisionalis Jawa berupa> khurafat dan bid’ah. Komunis terbagi dua yakni komunis Stalinis +Cina (kritik Musso) yang dikenal dengan PKI dan Komunis Nasionalis (Murbaisme / Ide Tan Malaka) yang dikenal Partai MURBA. PKI pada masa Liberal ini mempunyai dukungan para islam abangan, ateis, sekuler, buruh, petani dengan tokoh pemuda 45 anak didik Musso, yakni D.N Aidit, Sudisman, Nyoto dll. Murba mempunyai dukungan para islam abangan, sekuler dengan
tokoh pemuda 45 dan eks PArtai Republik Indonesia (PARI) kader Tan Malaka, yakni Sukarni, Adam Malik, Chaerul Saleh,dll. Ide Sosialis sama-sama diusung oleh PSI Sjahrir dengan sosialis demokratnya+marxis dan PNI dengan marhaenismenya. Perbedaan antara PSI dan PNI adalah dalam sifat partainya. PSI yang mirip dengan PNI-baru/PI faksi Hatta merupakan partai kader para intelektual yang cenderung eksklusif dan anti komunis mempunyai pendukung para kaum sosialis demokrat, intelektual, akademisi dan kaum sekuler. PNI adalah partai yang bersifat masa yang mempunyai dukungan besar dari kaum priyayi, abangan, sekuler, buruh, petani menengah. PNI adalah jelmaan dari PNI Soekarno dengan tokoh eks PI seperti Ali Sastroamijojo, Sartono, Iwa K, dll.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar