Yunani Kuno adalah periode dalam sejarah Yunani yang dimulai dari periode Yunani purba pada abad ke-8 sampai ke-6 SM, hingga penaklukan Romawi atas Korintia pada tahun 146 SM. Peradaban ini mencapai puncaknya pada periode Yunani klasik, yang mulai bersemi pada abad ke-5 sampai ke-4 SM. Pada periode klasik ini Yunani dipimpin oleh negara-kota Athena dan berhasil menghalau serangan Kekaisaran Persia. Masa keemasan Athena berakhir dengan takluknya Athena kepada Sparta dalam perang Peloponesia pada tahun 404 SM.
Oleh sebagian besar sejarawan, peradaban ini dianggap merupakan peletak dasar bagi Peradaban Barat. Budaya Yunani merupakan pengaruh kuat bagi Kekaisaran Romawi, yang selanjutnya meneruskan versinya ke bagian lain Eropa.
Istilah "Yunani Kuno" diterapkan pada wilayah yang menggunakan bahasa Yunani pada zaman kuno. Wilayahnya tidak hanya terbatas pada semenanjung Yunani modern, tapi juga termasuk wilayah lain yang didiami orang-orang Yunani: Siprus dan Kepulauan Aegea, pantai Aegea dari Anatolia (saat itu disebut Ionia), Sisilia dan bagian selatan Italia (dikenal dengan Magna Graecia), serta pemukiman Yunani lain yang tersebar sepanjang pantai Colchis, Illyria, Thrace, Mesir, Cyrenaica, selatan Gaul, timur dan timur laut Semenanjung Iberia, Iberia, dan Taurica.
Peradaban Yunani Kuno sangat berpengaruh pada bahasa, politik, sistem pendidikan, filsafat, ilmu, dan seni, mendorong Renaisans di Eropa Barat, dan bangkit kembali pada masa kebangkitan Neo-Klasik pada abad ke-18 dan ke-19 di Eropa dan Amerika.
Sejarah
Periode purba (periode arkaik) dimpulai pada abad ke-8 SM, ketika Yunani mulai bangkit dari era kegelapan yang ditandai dengan keruntuhan peradaban Mycena. Peradaban baca-tulis telah musnah dan huruf Mycena telah terlupakan, akan tetapi bangsa Yunani mengadopsi alfabet Funisia, memodifikasinya dan menciptakan alfabet Yunani. Pada abad ke-9 SM catatan tertulis mulai muncul.[1] Yunani saat itu terdiri atas komunitas mandiri yang merdeka, terbentuk sesuai pola geografis Yunani, dimana setiap pulau, lembah, dan dataran terpisah satu sama lain oleh laut atau pengunungan.[2]
Pada abad ke-6 SM beberapa negara-kota telah tumbuh menjadi kekuatan dominan Yunani: Athena, Sparta, Korinthia, dan Thebes. Masing-masing menaklukkan wilayah pedesaan dan kota kecil sekitarnya, Athena dan Korinthia adalah kekuatan maritim dan perdagangan terkemuka.
Pertumbuhan penduduk yang pesat pada abad ke-8 dan ke-7 SM telah mengakibatkan perpindahan penduduk Yunani ke koloni-koloninya di Magna Graecia (Italia selatan dan Sisilia), Asia Minor dan wilayah lainnya. Emigrasi ini berakhir pada abad ke-6 yang pada saat itu dunia Yunani, secara budaya dan bahasa, mencakup kawasan yang jauh lebih luas dari negara Yunani sekarang. Koloni Yunani ini tidak diperintah oleh kota pembangunnya, meskipun mereka tetap menjalin hubungan keagamaan dan budaya. Periode ini ditandai dengan berkembangnya perdagangan dan meningkatnya standar hidup di Yunani dan koloninya.
Pada paruh kedua abad ke-6 SM, Athena jatuh dalam cengkeraman tirani Peisistratos dan putranya; Hippias dan Hipparchos. Akan tetapi pada tahun 510 SM ketika pelantikan aristokrasi Athena Cleisthenes, raja Sparta Cleomenes I membantu rakyat Athena menggulingkan sang tiran. Setelah itu Sparta dan Athens berulang kali saling serang, pada suatu saat Cleomenes I mengangkat Isagoras yang pro-Spartan menjadi pemimpin Athena. Untuk mencegah thena menjadi negara boneka Sparta, Cleisthenes membujuk warga Athena untuk melakukan suatu revolusi politik: bahwa semua warga athena memiliki hak dan kewajiban politik yang sama tanpa memandang status: dengan demikian Athena menjadi "demokrasi". Gagasan ini disambut oleh warga Athena dengan bersemangat sehingga setelah berhasil menggulingkan Isagoras dan menerapkan reformasi Cleisthenes, Athena dengan mudah berhasil menangkal tiga kali serangan Sparta yang berusaha mengembalikan kekuasaan Isagoras.[3] Bangkitnya demokrasi memulihkan kekuatan Athena dan memicu dimulainya 'masa keemasan' Athena.
Yunani klasik
Koin Athena awal, menggambarkan kepala dewi Athena dan burung hantu Athena di sebaliknya - abad ke-5 SM.
Liga Deli ("Kekaisaran Athena"), sebelum perang Peloponnesia pada 431 SM.
Abad ke-5 SM
Athena dan Sparta kemudian bersekutu untuk menghadapi ancaman asing yang jauh lebih kuat dan berbahaya, Kekaisaran Persia. Setelah menindas pemberontakan Ionia, Kaisar Darius I dari Persia, Maharaja Kekaisaran Akhemeniyah memutuskan untuk menaklukan Yunani. Serangan persia pada tahun 490 SM diakhiri dengan kemenangan Athena pada perang Marathon dibawah kepemimpina Miltiades muda.
Xerxes I, putra dan pewaris Darius I, mencoba kembali menaklukan Yunani 10 tahun kemudian. Akan tetapi pasukan Persia yang berjumlah besar menderita banyak korban dalam perang Thermopilae, persekutuan Yunani menang atas perang Salamis dan Platea. Perang Yunani-Persia berlangsung hingga 449 SM, dipimpin oleh Athena serta Liga Deli, pada saat ini Macedonia, Thrasia, dan kepulauan Aegea serta Ionia semua terbebas dari pengaruh Persia.
Posisi dominan kemaharajaan maritim Athena mengancam posisi Sparta dengan Liga Peloponesia-nya di daratan Yunani. Konflik tak terhindarkan yang berujung pada Perang Peloponesia (431-404 SM). Meskipun berulang kali berhasil menghambat perang, Athena berulang kali terpukul mundur. Wabah penyakit yang menimpa Athena pada 430 SM disusul kegagalan ekspedisi militer ke Sisilia sangat melemahkan Athena. Diduga sepertiga warga Athena tewas, termasuk Perikles,pemimpin mereka.[4]
Sparta berhasil memancing pemberontakan para sekutu Athena, akhirnya melumpuhkan kekuatan militer Athena. Peristiwa penting terjadi pada 405 SM ketika Sparta berhasil memotong jalur suplai pangan Athena dari Hellespont. Terpaksa menyerang, armada angkatan laut Athena yang pincang dihancurkan oleh Spartan dibawah pimpinan Lysander pada perang Aegospotami. Pada 404 SM Athena mengajukan permohonan perdamaian, dan Sparta menentukan persyaratannya; Athena harus membongkar tembok kotanya, serta melepaskan seluruh koloninya di seberang laut.
Abad ke-4 SM
Yunani memasuki abad ke-4 SM dibawah hegemoni Sparta, akan tetapi jelas dari awal bahwa Sparta memiliki kelemahan. Krisis demografi menyebabkan Sparta kekuasaan Sparta terlalu meluas sedangkan kemampuan terbatas untuk mengelolanya. Pada 395 SM Athena, Argos, Thebes, dan Korinthia mampu menantang Sparta yang berujung pada perang Korinthia (395-387 SM).Perang ini berakhir dengan status quo, dengan diselingi intervensi Persia atas nama Sparta.
Hegemoni Sparta berlangsung 16 tahun kemudian, hingga Sparta berusaha memaksakan kehendanya kepada warga Thebes, Sparta kalah telak dalam perang Leuctra pada tahun 371 SM. Jenderal Thebes Epaminondas memimpin pasukan Thebes memasuki semenanjung Peloponesus, sehingga banyak negara-kota memutuskan hubungannya dengan Sparta. Pasukan Thebes berhasil memasuki Messenia dan membebaskan rakyatnya.
Kehilangan tanah dan penduduk jajahan, Sparta jatuh menjadi kekuatan kelas dua. Hegemoni Thebes kemudian berdiri meski berusia singkat. Pada perang Mantinea (362 SM), Thebes kehilangan pemimpin pentingnya, meski menang dalam perang. Kemudian negara-kota Mantinea berhasil mendominasi Yunani.
Melemahnya berbagai negara-kota di jantung Yunani bersamaan dengan bangkitnya Macedonia, yang dipimpin Philip II. Dalam dua puluh tahun, Philip berhasil mempersatukan kerajaan, memperluasnya ke utara dengan memojokkan suku Illyria, kemudian menaklukkan and Thessaly dan Thrace. Kesuksesannya berkat inovasinya mereformasi tentara Macedonia. Berulang kali Philip campur tangan dalam urusan politik negara-kota di selatan, yang berujung pada invasi tahun 338 SM.
Setelah mengalahkan gabungan tentara Athena dan Thebes dalam perang Chaeronea (338 BC), ia menjadi hegemon de facto seluruh Yunani. Ia memaksa mayoritas negara-kota Yunani untuk bergabung kedalam Liga Korinthia yang bersekutu dengannya, serta mencegah mereka saling serang. Philip memulai serangan terhadap kekaisaran Akhemaeniyah Persia, akan tetapi ia dibunuh oleh Pausanias dari Orestis.
Aleksander Agung, putra dan pewaris Philip, melanjutkan perang. Aleksander mengalahkan Darius III dari Persia dan menghancurkan Kekaisaran Akhemeniyah sepenuhnya, dan ia memperoleh gelar 'Agung'. Kerika Aleksander wafat pada 323 SM, kekuasaan dan pengaruh Yunani berada pada puncaknya. Akan tetapi terjadi perubahan politik, sosial dan budaya yang mendasar; semakin menjauh dari kemerdekaan polis (negara-kota) dan lebih membentuk kebudayaan Hellenistik.
Yunani Hellenistik
Periode Hellenistik bermula pada 323 SM, ditandai dengan berakhirnya penaklukan Aleksander Agung, dan diakhiri dengan penaklukan Yunani oleh Republik Romawi pada 146 SM. Meskipun demikian berdirinya kekuasaan Romawi tidak memutuskan kesinambungan sistem sosial kemasyarakatan dan budaya Yunani, yang tetap tidak berubah hingga bangkitnya agama Kristen, yang menandai runtuhnya kemerdekaan politik Yunani.
Minggu, 14 November 2010
Iskandar Zulkarnaen
Alexander Agung atau Iskandar Zulkarnaen adalah raja hebat yang dijuluki sebagai penakluk dunia. Hanya dalam waktu 13 tahun kekuasaannya, dia mengkonsolidasikan kekuatan di seluruh Yunani dan memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke India.
Melalui Iskandar Zulkarnaen pengaruh kebudayaan Yunani (helenisme) menyebar sampai ke timur. Penaklukan-penaklukan yang dilakukannya yang dibarengi dengan pembauran budaya menjadikan wilayah besar yang sebelumnya selalu penuh peperangan menjadi lebih damai. Meskipun hidupnya yang singkat (wafat dalam usia 33 tahun), riwayatnya tetap melegenda sampai sekarang, lebih dari 2300 tahun kemudian.
Apa yang menjadi faktor keberhasilan Iskandar?
Mari kita analisis dengan teori sukses = kemerdekaan
Iskandar memiliki kemerdekaan dalam melaksanakan penaklukan-penaklukan karena memang dia memiliki kecakapan untuk itu (freedom of ). Sejak kecil dia sudah disiapkan oleh ayahnya, Raja Philip XI, dengan berbagai pendidikan dan keterampilan. Sejak usia 13 tahun dia sudah berguru kepada Aristoteles, filsuf besar masa itu. Dia juga seringkali diminta ikut serta menemani tamu-tamu asing kerajaan untuk mendapatkan pengalaman diplomasi dan politik.
Kemampuan bertarung dan ilmu strategi perang Iskandar juga sudah diasah dari kecil melalui didikan guru-guru terbaik. Didukung oleh bakatnya yang luar biasa, jadilah Iskandar seorang panglima perang yang paripurna. Dia banyak menemukan strategi perang dan alat perang baru. Dia juga sangat tangguh dalam bertarung. Dalam setiap peperangan, dia selalu berada di barisan penyerang depan sebagai komando kavaleri. Keberaniannya luar biasa. Berkali-kali dia luka dalam pertempuran. Bahkan, dikisahkan bahwa dalam pertempuran di sungai Granicus, leher dan kepalanya luka parah.
Dari kecil, Iskandar sudah dibekali dengan sebuah visi besar dari ibunya, Ratu Olympia dan gurunya, Aristoteles. Hal ini membebaskannya dari belenggu kekerdilan pikiran (freedom from). Sejak kecil, Iskandar dicekoki dengan cerita mengenai kehebatan Achiles, pahlawan gagah berani dalam cerita Iliad karya Homerus. Aristoteles menghadiahi buku Iliad itu ke Iskandar, yang kemudian selalu dibawa-bawanya ke mana dia pergi. Aristoteles juga mendorong Iskandar untuk dapat mengungguli kegagahan Achiles.
Tapi kemampuan dan motivasi besar tidak cukup bila tidak ada kesempatan. Iskandar memperoleh kebebasan untuk melakukan apa yang menjadi impiannya karena dia diangkat sebagai pengganti Raja Philip XI di usia 20 tahun (freedom to). Dengan mewarisi kekuasaan Raja Philip XI, dia memiliki wewenang terhadap angkatan perang yang besar dan kekuasaan awal yang meliputi seluruh wilayah Yunani.
Dialah Raja Muslim yang sangat berkuasa namun saleh. Daerah taklukannya membentang dari bumi bagian barat sampai timur. Ia mendapat julukan Iskandar “Zulkarnain”. “Zul”, artinya “memiliki”, Qarnain, artinya “Dua Tanduk”. Maksudnya, Iskandar yang memiliki kekuasaan antara timur dan barat.
Dia juga telah membangun dinding besar berteknologi tinggi untuk ukuran saat itu, diantara dua Gunung. Para ahli sejarah meyakini, dinding tersebut terbuat dari besi yang dicampur dengan tembaga itu terletak tepat di pengunungan Kaukasus. Daerah itu kini disebut Georgia, negara pecahan Uni Soviet.
Secara topografis, deretan pegunungan Kaukasus itu memang terlihat memanjang dari laut Hitam sampai ke laut Kaspia sepanjang 1.200 kilometer tanpa celah. Kecuali pada bagian kecil sempit yang disebut celah Darial sepanjang 100 Meter kurang lebih. Pada bagian celah itulah Zulkarnain membangun tembok penghalang dari Ya’juj dan Ma’juj.
Kisah ketokohan Iskandar Zulkarnain ini juga tertulis dalam catatan sejarah orang-orang barat. Dalam catatan tersebut diceritakan bagaimana ia berjaya meluaskan daerah taklukannya dalam masa yang sangat singkat. Oleh karena kejayaannya ini, ia diberi gelar “Alexander The Great”, Alexander Yang Agung”. Belakangan cerita ini diadaptasi ke film layar lebar oleh Sutradara Amerika Serikat, Oliver Stone, dengan judul Alexander The Great.
Namun cerita dari orang-orang barat tersebut sangat bertentangan dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Para Mufasir menyatakan, “Alexander The Great” adalah orang yang berbeda dengan tokoh yang di tulis dalam Al-Qur’an, Yakni, Iskandar Zulkarnain. Alexander Thr Great itu dalam sejarahnya tidak diberitakan pernah membangun sebuah dinding besar berteknologi tinggi untuk ukuran saat itu, yang terbuat dari besi dicampur tembaga. Bahkan, ia adalah seorang musyrik. Sejarah tidak mencatatnya sebagai seorang Raja Muslim yang taat kepada agama Tauhid.
Sejarawan Muslim yang juga ahli tafsir, Ibnu Katsir, dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah menjelaskan, meski punya nama yang sama dan plot cerita yang sama, yaitu kekuasaannya membentang dari Barat sampai ke Timur, keduanya adalah sosok yang berbeda. Antara mereka terbentang jarak dan waktu sampai 2000 tahun. “Hanya mereka yang tidak mengerti sejarah yang bisa terkecoh oleh identitas kedua orang itu,” katanya.
Ibnu Katsir lebih jauh menjelaskan, Zulkarnain adalah nama gelar atau julukan seorang penglima penakluk sekaligus Raja saleh. Karena kesalehannya ia selalu mengajak manusia untuk menyembah Allah. Namun mereka ingkar, malah memukul tanduknya – Qarnun, yaitu rambut kepala yang di ikat – sebelah kanan, hingga ia mati. Lalu Allah menghidupkannya kembali, dan ia pun kembali berdakwah. Tetapi sekali lagi tanduknya yang kiri dipukul, sehingga ia mati lagi. Allah SWT menghidupkannya kembali dan menjulukinya Zulkarnain, pemilik duaTanduk, serta memberinya kekuasaan.
Cerita yang sama juga di jumpai dalam kitab Jami Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, karangan Syekh Al-Aiji Asy-Syafi’i. Dalam kitab tersebut disebutkan, Zulkarnain adalah seorang hamba yang taat kepada Allah dan mengajak kaumnya menyembah Allah. Lalu mereka memukul tanduknya yang kanan hingga mati. Kemudian Allah menghidupkannya lagi, dan dia kembali mengajak kaumnya mengesakan Allah. Tetapi mereka malah memukul tanduknya yang kiri hingga mati lagi. Lalu Allah menghidupkannya lagi dan menganugrahinya kekuasaan yang tak tertandingi. Oleh karena itu ia dijuluki Zulkarnain.
Di samping kedua kitab tersebut, Mufassir Muslim Ibnu Jarir Ath-Thabari juga mengisahkannya dalam kitab tafsir Ath-Thabari. Dikatakan, Iskandar Zulkarnain adalah seorang laki-laki yang berasal dari Romawi, ia anak tunggal seorang yang paling miskin diantara penduduk kota. Namun dalam pergaulan sehari-hari, ia hidup dalam lingkungan kerajaan, bergaul dengan para perwira dan berkawan dengan wanita-wanita yang baik dan berbudi serta berakhlak mulia.
Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsir Al-Qur’annya yang populer, Tafsir Al-Qurtubi, menceritakan, sejak masih kecil dan masa pertumbuhannya Iskandar berakhlak mulia. Melakukan hal-hal yang baik sehingga terangkat nama baiknya. Ia juga menjadi mulia di kalangan kaumnya, sehingga Allah berkenan memberinya kewibawaan.
Setelah mencapai usia akil balig, Iskandar menjadi seorang hamba yang saleh, sehingga Allah Berfirman, “Wahai Zulkarnain, Sesungguhnya aku mengutusmu kepada umat-umat di bumi. Mereka adalah umat yang berbeda-beda bahasanya dan mereka adalah umat yang berada disegala penjuru bumi. Mereka terbagi dalam beberapa golongan.”
Mendapat amanat tersebut, Zulkarnain lalu berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau telah menugasiku melakukan seuatu hal yang aku tidak kuasa melakukannya kecuali engkau sendiri, maka beritahukan kepadaku tentang umat-umat itu, dengan kekuatan apa aku bisa melawan mereka? Dengan kesabaran apa aku bisa menahan mereka? Dan dengan bahasa apa aku harus bicara dengan mereka? Bagaimana pula aku bisa memahami bahasa mereka sedangkan aku tidak mempunyai kemampuan.”
Kemudian Allah SWT berfirman”Aku membebanimu sesuatu yang kamu mampu melakukannya, aku akan melapangkan pendengaran dan dadamu hingga kamu bisa mendengar dan memperhatikan segala sesuatu. Memudahkan pemahamanmu sehingga kamu bisa memahami segala sesuatu, meudahkan lidahmu, hingga kamu bisa berbicara tentang sesuatu, membukakan penglihatanmu, sehingga kamu bisa melihat segala sesuatu, melipatgandakan kekuatanmu hingga tak terkalahkan oleh sesuatu apapun, menyingsingkan lenganmu, hingga tidak ada sesuatupun yang berani meyerangmu, menguatkan hatimu, hingga kamu tidak takut pada apapun, menguatkan kedua tanganmu hingga kamu bisa menguasai segala sesuatu, menguatkan pijakanmu hingga kamu bisa mengatasi segala sesuatu, memberimu kemuliaan hingga tidak ada apapun yang menakutimu, menundukkan untukmu cahaya dan kegelapan dan menjadikan salah satu tentaramu. Cahaya itu akan menjadi petunjuk di depanmu, dan kegelapan itu akan berkeliling di belakangmu.
Melalui Iskandar Zulkarnaen pengaruh kebudayaan Yunani (helenisme) menyebar sampai ke timur. Penaklukan-penaklukan yang dilakukannya yang dibarengi dengan pembauran budaya menjadikan wilayah besar yang sebelumnya selalu penuh peperangan menjadi lebih damai. Meskipun hidupnya yang singkat (wafat dalam usia 33 tahun), riwayatnya tetap melegenda sampai sekarang, lebih dari 2300 tahun kemudian.
Apa yang menjadi faktor keberhasilan Iskandar?
Mari kita analisis dengan teori sukses = kemerdekaan
Iskandar memiliki kemerdekaan dalam melaksanakan penaklukan-penaklukan karena memang dia memiliki kecakapan untuk itu (freedom of ). Sejak kecil dia sudah disiapkan oleh ayahnya, Raja Philip XI, dengan berbagai pendidikan dan keterampilan. Sejak usia 13 tahun dia sudah berguru kepada Aristoteles, filsuf besar masa itu. Dia juga seringkali diminta ikut serta menemani tamu-tamu asing kerajaan untuk mendapatkan pengalaman diplomasi dan politik.
Kemampuan bertarung dan ilmu strategi perang Iskandar juga sudah diasah dari kecil melalui didikan guru-guru terbaik. Didukung oleh bakatnya yang luar biasa, jadilah Iskandar seorang panglima perang yang paripurna. Dia banyak menemukan strategi perang dan alat perang baru. Dia juga sangat tangguh dalam bertarung. Dalam setiap peperangan, dia selalu berada di barisan penyerang depan sebagai komando kavaleri. Keberaniannya luar biasa. Berkali-kali dia luka dalam pertempuran. Bahkan, dikisahkan bahwa dalam pertempuran di sungai Granicus, leher dan kepalanya luka parah.
Dari kecil, Iskandar sudah dibekali dengan sebuah visi besar dari ibunya, Ratu Olympia dan gurunya, Aristoteles. Hal ini membebaskannya dari belenggu kekerdilan pikiran (freedom from). Sejak kecil, Iskandar dicekoki dengan cerita mengenai kehebatan Achiles, pahlawan gagah berani dalam cerita Iliad karya Homerus. Aristoteles menghadiahi buku Iliad itu ke Iskandar, yang kemudian selalu dibawa-bawanya ke mana dia pergi. Aristoteles juga mendorong Iskandar untuk dapat mengungguli kegagahan Achiles.
Tapi kemampuan dan motivasi besar tidak cukup bila tidak ada kesempatan. Iskandar memperoleh kebebasan untuk melakukan apa yang menjadi impiannya karena dia diangkat sebagai pengganti Raja Philip XI di usia 20 tahun (freedom to). Dengan mewarisi kekuasaan Raja Philip XI, dia memiliki wewenang terhadap angkatan perang yang besar dan kekuasaan awal yang meliputi seluruh wilayah Yunani.
Dialah Raja Muslim yang sangat berkuasa namun saleh. Daerah taklukannya membentang dari bumi bagian barat sampai timur. Ia mendapat julukan Iskandar “Zulkarnain”. “Zul”, artinya “memiliki”, Qarnain, artinya “Dua Tanduk”. Maksudnya, Iskandar yang memiliki kekuasaan antara timur dan barat.
Dia juga telah membangun dinding besar berteknologi tinggi untuk ukuran saat itu, diantara dua Gunung. Para ahli sejarah meyakini, dinding tersebut terbuat dari besi yang dicampur dengan tembaga itu terletak tepat di pengunungan Kaukasus. Daerah itu kini disebut Georgia, negara pecahan Uni Soviet.
Secara topografis, deretan pegunungan Kaukasus itu memang terlihat memanjang dari laut Hitam sampai ke laut Kaspia sepanjang 1.200 kilometer tanpa celah. Kecuali pada bagian kecil sempit yang disebut celah Darial sepanjang 100 Meter kurang lebih. Pada bagian celah itulah Zulkarnain membangun tembok penghalang dari Ya’juj dan Ma’juj.
Kisah ketokohan Iskandar Zulkarnain ini juga tertulis dalam catatan sejarah orang-orang barat. Dalam catatan tersebut diceritakan bagaimana ia berjaya meluaskan daerah taklukannya dalam masa yang sangat singkat. Oleh karena kejayaannya ini, ia diberi gelar “Alexander The Great”, Alexander Yang Agung”. Belakangan cerita ini diadaptasi ke film layar lebar oleh Sutradara Amerika Serikat, Oliver Stone, dengan judul Alexander The Great.
Namun cerita dari orang-orang barat tersebut sangat bertentangan dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Para Mufasir menyatakan, “Alexander The Great” adalah orang yang berbeda dengan tokoh yang di tulis dalam Al-Qur’an, Yakni, Iskandar Zulkarnain. Alexander Thr Great itu dalam sejarahnya tidak diberitakan pernah membangun sebuah dinding besar berteknologi tinggi untuk ukuran saat itu, yang terbuat dari besi dicampur tembaga. Bahkan, ia adalah seorang musyrik. Sejarah tidak mencatatnya sebagai seorang Raja Muslim yang taat kepada agama Tauhid.
Sejarawan Muslim yang juga ahli tafsir, Ibnu Katsir, dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah menjelaskan, meski punya nama yang sama dan plot cerita yang sama, yaitu kekuasaannya membentang dari Barat sampai ke Timur, keduanya adalah sosok yang berbeda. Antara mereka terbentang jarak dan waktu sampai 2000 tahun. “Hanya mereka yang tidak mengerti sejarah yang bisa terkecoh oleh identitas kedua orang itu,” katanya.
Ibnu Katsir lebih jauh menjelaskan, Zulkarnain adalah nama gelar atau julukan seorang penglima penakluk sekaligus Raja saleh. Karena kesalehannya ia selalu mengajak manusia untuk menyembah Allah. Namun mereka ingkar, malah memukul tanduknya – Qarnun, yaitu rambut kepala yang di ikat – sebelah kanan, hingga ia mati. Lalu Allah menghidupkannya kembali, dan ia pun kembali berdakwah. Tetapi sekali lagi tanduknya yang kiri dipukul, sehingga ia mati lagi. Allah SWT menghidupkannya kembali dan menjulukinya Zulkarnain, pemilik duaTanduk, serta memberinya kekuasaan.
Cerita yang sama juga di jumpai dalam kitab Jami Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, karangan Syekh Al-Aiji Asy-Syafi’i. Dalam kitab tersebut disebutkan, Zulkarnain adalah seorang hamba yang taat kepada Allah dan mengajak kaumnya menyembah Allah. Lalu mereka memukul tanduknya yang kanan hingga mati. Kemudian Allah menghidupkannya lagi, dan dia kembali mengajak kaumnya mengesakan Allah. Tetapi mereka malah memukul tanduknya yang kiri hingga mati lagi. Lalu Allah menghidupkannya lagi dan menganugrahinya kekuasaan yang tak tertandingi. Oleh karena itu ia dijuluki Zulkarnain.
Di samping kedua kitab tersebut, Mufassir Muslim Ibnu Jarir Ath-Thabari juga mengisahkannya dalam kitab tafsir Ath-Thabari. Dikatakan, Iskandar Zulkarnain adalah seorang laki-laki yang berasal dari Romawi, ia anak tunggal seorang yang paling miskin diantara penduduk kota. Namun dalam pergaulan sehari-hari, ia hidup dalam lingkungan kerajaan, bergaul dengan para perwira dan berkawan dengan wanita-wanita yang baik dan berbudi serta berakhlak mulia.
Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsir Al-Qur’annya yang populer, Tafsir Al-Qurtubi, menceritakan, sejak masih kecil dan masa pertumbuhannya Iskandar berakhlak mulia. Melakukan hal-hal yang baik sehingga terangkat nama baiknya. Ia juga menjadi mulia di kalangan kaumnya, sehingga Allah berkenan memberinya kewibawaan.
Setelah mencapai usia akil balig, Iskandar menjadi seorang hamba yang saleh, sehingga Allah Berfirman, “Wahai Zulkarnain, Sesungguhnya aku mengutusmu kepada umat-umat di bumi. Mereka adalah umat yang berbeda-beda bahasanya dan mereka adalah umat yang berada disegala penjuru bumi. Mereka terbagi dalam beberapa golongan.”
Mendapat amanat tersebut, Zulkarnain lalu berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau telah menugasiku melakukan seuatu hal yang aku tidak kuasa melakukannya kecuali engkau sendiri, maka beritahukan kepadaku tentang umat-umat itu, dengan kekuatan apa aku bisa melawan mereka? Dengan kesabaran apa aku bisa menahan mereka? Dan dengan bahasa apa aku harus bicara dengan mereka? Bagaimana pula aku bisa memahami bahasa mereka sedangkan aku tidak mempunyai kemampuan.”
Kemudian Allah SWT berfirman”Aku membebanimu sesuatu yang kamu mampu melakukannya, aku akan melapangkan pendengaran dan dadamu hingga kamu bisa mendengar dan memperhatikan segala sesuatu. Memudahkan pemahamanmu sehingga kamu bisa memahami segala sesuatu, meudahkan lidahmu, hingga kamu bisa berbicara tentang sesuatu, membukakan penglihatanmu, sehingga kamu bisa melihat segala sesuatu, melipatgandakan kekuatanmu hingga tak terkalahkan oleh sesuatu apapun, menyingsingkan lenganmu, hingga tidak ada sesuatupun yang berani meyerangmu, menguatkan hatimu, hingga kamu tidak takut pada apapun, menguatkan kedua tanganmu hingga kamu bisa menguasai segala sesuatu, menguatkan pijakanmu hingga kamu bisa mengatasi segala sesuatu, memberimu kemuliaan hingga tidak ada apapun yang menakutimu, menundukkan untukmu cahaya dan kegelapan dan menjadikan salah satu tentaramu. Cahaya itu akan menjadi petunjuk di depanmu, dan kegelapan itu akan berkeliling di belakangmu.
Hammurabi
Hammurabi (bahasa Akkadia, dari kata Ammu "saudara laki-laki pihak ayah", dan Rāpi "seorang penyembuh"); adalah raja keenam dari Dinasti Babilonia pertama (memerintah 1792-1750 SM), dan ia mungkin juga Amraphel, raja dari Sinoar menurut Bibel (Kejadian 14:1).
Hammurabi memimpin pasukannya menyerang Akkadia, Elam, Larsa, Mari dan Summeria, sehingga menjadikan Kekaisaran Babilonia hampir sama besar dengan Kerajaan Mesir kuno di bawah Firaun Menes, yang menyatukan Mesir lebih dari seribu tahun sebelumnya.
Piagam Hammurabi
Walaupun Hammurabi banyak sekali melakukan peperangan menaklukkan kerajaan lain, namun ia lebih terkenal karena pada masa pemerintahannya dibuat kode resmi (hukum tertulis) pertama yang tercatat di dunia, yang disebut sebagai Piagam Hammurabi (Codex Hammurabi).
Pada tahun 1901, arkeolog Perancis menemukan piagam tersebut ketika melakukan penggalian di bawah reruntuhan bekas kota kuno Susa, Babilonia. Piagam Hammurabi tersebut terukir di atas potongan batu yang telah diratakan dalam huruf paku (cuneiform). Piagam tersebut seluruhnya ada 282 hukum, akan tetapi terdapat 32 hukum diantaranya yang terpecah dan sulit untuk dibaca. Isinya adalah pengaturan atas perbuatan kriminal tertentu dan ganjarannya. Beberapa contoh isinya, antara lain:
• Seorang yang gagal memperbaiki saluran airnya akan diminta untuk membayar kerugian tetangga yang ladangnya kebanjiran
• Pemuka agama wanita dapat dibakar hidup-hidup jika masuk rumah panggung (umum) tanpa permisi
• Seorang janda dapat mewarisi sebagian dari harta suaminya yang sama besar dengan bagian yang diwarisi oleh anak laki-lakinya
• Seorang dukun yang pasiennya meninggal ketika sedang dioperasi dapat kehilangan tangannya (dipotong)
• Seseorang yang berhutang dapat bebas dari hutangnya dengan memberikan istri atau anaknya kepada orang yang menghutanginya untuk selang waktu tiga tahun
Saat ini, Piagam Hammurabi telah disimpan dan dipamerkan untuk khalayak ramai di Museum Louvre di Paris, Perancis.
Raja Hammurabi adalah orang hebat (ada juga yang mengatakan ‘gila’) yang menciptakan “Code of Hammurabi” atau Hukum Hammurabi, salah satu dari beberapa hukum tertulis yang dibuat beberapa ribu tahun yang lalu. Sebelum ada hukum tertulis, titah raja berlaku sebagai hukum, sehingga tidak ada standar yang sama dan mengikat untuk seluruh rakyat. Code of Hammurabi ini menjadi dasar bagi berbagai aturan hukum yang berlaku di dunia modern saat ini.
Oke, kita kenalan dulu yuuk dengan Pak Hammurabi. Saya kenal Hammurabi pertama kali pada mata kuliah Aspek Hukum di Bidang Konstruksi. Salah satu hukum Hammurabi yang berkaitan dengan bidang konstruksi berbunyi demikian : “Tukang batu yang membuat rumah, dan rumah itu ambruk sehingga menewaskan penghuni yang ada di dalamnya, maka tukang batu tersebut harus dihukum mati”. Holoh, holoh ….
Hukum yang ‘mengerikan’ tersebut sesungguhnya memiliki filosofi tentang jaminan mutu dan profesionalisme, dimana setiap orang harus memiliki profesionalitas dalam bekerja, dan bertanggungjawab atas hasil pekerjaannya.
wajah-hammurabi
Hammurabi adalah raja ke enam dari kerajaan Babylonia, yang menguasai seluruh wilayah Mesopotamia yang subur. Ia lahir pada tahun 1795 BC, dan meninggal pada tahun 1750 BC. Hammurabi seorang raja yang sangat tegas dan disiplin. Ia ingin segala sesuatu berjalan dengan tertib dan teratur, dan semua orang menaati peraturan.
Pada suatu ketika, ia merasa kesal karena banyak gubernur di wilayah kekuasaannya yang tidak mau mengirimkan tentara untuk berperang. Maka ia memerintahkan semua gubernur untuk datang menghadap. Berdatanganlah para pemimpin wilayah itu, dari berbagai suku di Afrika dan Asia Barat. Mereka datang dengan pakaian kebesaran masing-masing. Ada yang datang dengan jubah sutera dan perhiasan emas-perak, ada yang menutup tubuhnya dengan bulu binatang, ada yang hanya bercawat dan melumuri tubuh serta wajahnya dengan cat warna warni, ada yang berambut panjang terjurai-jurai, ada yang mencukur plontos kepalanya. Pokoknya semua tampil dengan ‘dandanan terbaik’ mereka, menurut versi suku dan budaya masing-masing.
Hammurabi kaget melihat rakyatnya yang aneka corak itu. Kerajaan apa ini, yang rakyatnya gado-gado seperti ini, pikirnya. Ini bukan kerajaan yang tertib dan rapi, tapi panggung sirkus, geramnya dengan kesal. Jika dandanan mereka saja centang prenang, amburadul, pasti perilaku mereka pun semau-mau sendiri. Hammurabi urung memberi ceramah tentang pentingnya mengirimkan tentara bagi kerajaan, dan menyuruh semua gubernur dan utusan wilayah itu untuk pulang.
peta-babylonia
Hammurabi kemudian memilih orang-orang kasim yang paling pintar (pada masa itu, orang kasim memiliki kedudukan yang terhormat dan terpercaya di kerajaan), dan menyuruh mereka membuat suatu hukum yang akan mengatur perilaku seluruh orang di wilayah kekuasaan kerajaannya. Maka terciptalah Code of Hammurabi yang terdiri atas 282 hukum. Hukum Hammurabi ini bersifat spesifik, dan selalu disertai dengan sanksi yang berat. Jika dilihat dari perspektif modern masa kini, sanksi yang diberikan oleh Hukum Hammurabi sangat mengerikan, sering kali berupa potong tangan atau hukuman mati. Harus kita pahami, bahwa hukum ini diciptakan hampir empat ribu tahun yang lalu, dimana kehidupan masyarakat pada saat itu masih sangat bar-bar. Maka agar orang takut, ancaman hukuman pun harus memiliki tingkat kekejaman yang tinggi.
Filosofi yang dianut pada penyusunan Code of Hammurabi adalah “Eye for Eye, Tooth for Tooth”, filosofi ‘law of retalitation’ atau filosofi balas dendam.
Beberapa contoh hukum Hammurabi antara lain : seorang biarawati akan dibakar hidup-hidup jika kedapatan memasuki penginapan tanpa ijin, seorang dokter bedah yang pasiennya meninggal saat dalam penanganannya akan kehilangan sebelah tangannya, orang yang mencuri akan dipotong tangannya, orang yang berbohong akan dipotong lidahnya, orang yang …. wah, sudah ah, ngeri …
Ada juga hukum yang ‘a-moral’, yaitu : seorang peminjam dapat menghapus hutangnya setelah tiga tahun bila ia menyerahkan isteri atau anaknya kepada sang pemberi hutang (bersyukurlah semua wanita yang hidup pada zaman sekarang, yang bisa menolak jika akan dipakai untuk membayar hutang). Pada masa itu, perempuan berada pada posisi yang sangat direndahkan, tidak memiliki hak apa pun atas dirinya. Ia dianggap seperti barang yang dimiliki oleh ayah atau suaminya, yang boleh diperlakukan sesuka hati oleh laki-laki yang menguasainya.
Tetapi ada juga hukum yang melindungi perempuan, yaitu : seorang janda berhak mendapatkan warisan sejumlah yang diterima anak lelakinya. Mengingat bahwa pada saat itu perempuan sama sekali tidak memiliki hak (termasuk tidak memiliki hak atas harta benda), dan janda yang ditinggal mati suaminya berada pada posisi paling lemah (karena ia menjadi ‘barang tak bertuan’ yang boleh ‘diambil’ oleh siapa pun), maka hukum ini merupakan pembelaan dan perlindungan yang sangat besar maknanya bagi perempuan.
patung-code-of-hammurabi
Gambar di atas menunjukkan Hammurabi yang menerima Code of Hammurabi dan penghormatan dari dewa Babylonia, yaitu Dewa Marduk atau Shamash. Relief tersebut terdapat pada bagian atas prasasti Hammurabi yang sekarang disimpan di Musee du Louvre, Paris. Prasasti ini terbuat dari batu, tingginya sekitar 2 meter dengan lebar 70 cm. Di bawah relief tersebut dipahatkan hukum Hammurabi yang terdiri atas 282 pasal dalam bahasa Akkadian. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1901 oleh seorang egyptologist (ahli tentang Mesir) bernama Gustave Jequier di Khuzestan, Iran.
Setelah hukum Hammurabi selesai disusun oleh orang-orang kasim jempolan itu, hukum tersebut kemudian dipahat pada lempengan-lempengan batu dan dipasang di tempat umum, sehingga seluruh rakyat bisa membacanya. Prasati itu diperbanyak dan disebarkan ke seluruh wilayah kekuasaan Hammurabi yang sangat luas.
Hammurabi sangat puas berhasil menciptakan hukum bagi seluruh umatnya. Dia, yang menganggap diri adalah dewa, berkeyakinan bahwa setelah hukum itu diundangkan, rakyat di seluruh wilayah kekuasaannya akan hidup tertib, rapi, semua terkontrol, dan semua memiliki standar perilaku yang sama.
Tapi apa yang terjadi?
Oleh karena pasal-pasal dalam hukum Hammurabi dibuat sangat spesifik, dan kebanyakan mengacu pada keadaan yang ditemui di Mesopotamia serta ditulis dalam bahasa Babylonia, maka kekacauan terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki budaya dan bahasa berbeda.
Suatu ketika, tiga orang utusan membawa batu prasasti bertuliskan hukum Hammurabi ke daerah Hinterland. Mereka melintasi gurun yang sangat luas dan panas tak terkira selama berhari-hari. Ketika akhirnya tiba di sebuah oase, mereka yang sudah sangat kehausan itu ingin minum. Namun, mereka kebingungan ketika membaca aturan nomor 214 yang berbunyi : “Barang siapa yang ingin minum pada saat ia sedang bepergian harus segera mengikat keledainya pada sebatang pohon dengan aman”.
Peraturan ini sesungguhnya dimaksudkan untuk melindungi keledai dari perlakuan pemiliknya yang sewenang-wenang, karena binatang ini memiliki nilai yang tinggi di tanah milik Hammurabi. Celakanya, para pembawa prasasti ini berasal dari Hinterlands, dan pada aturan itu keledai disebut dengan istilah “ass”, sementara dalam bahasa Hinterlands, “ass” berarti pantat. Lagipula, orang-orang tersebut tidak membawa keledai, melainkan onta. Maka, mereka mengikatkan pantat mereka ke pohon, dan meregangkan tubuh mereka untuk mencapai tepian danau di oase tersebut agar bisa minum. Namun karena jarak pohon tersebut terlalu jauh, maka mereka tak pernah berhasil mencapai tepian danau, dan akhirnya tewas. Adapun onta-onta yang mereka tunggangi, setelah minum sepuas-puasnya, lalu melenggang pergi meninggalkan ketiga tuannya. Karena tidak tahu tujuannya, onta-onta itu tersesat dan tidak pernah sampai ke Hinterlands. Maka hukum Hammurabi tidak pernah diterapkan di wilayah itu.
Kisah sedih yang lain terjadi di Etiopia. Di sini, terdapat kebiasaan yang mengharuskan seorang pembuat roti menyisakan satu loyang roti setiap kali mereka memanggang, sebagai derma bagi kaum miskin. Roti ini ditaruh di sebuah jendela, dan para fakir miskin akan mengambilnya karena tahu roti itu memang disediakan untuk mereka. Tradisi yang terpuji ini sudah berlaku dari generasi ke generasi, dan menjadi pranata sosial yang membuat orang miskin hidup tenteram. Tapi hukum Hammurabi mengubah semua itu.
Hukum no 764 berbunyi : “Barang siapa mengambil barang apa pun yang tidak ia beli, dinyatakan bersalah atas tuduhan pencurian dan akan kehilangan tangannya.” Empat puluh orang papa kehilangan lengan mereka satu hari setelah prasasti hukum Hammurabi tiba di tempat itu.
Masih banyak kisah tragis pada penerapan hukum Hammurabi, akibat salah persepsi dan pengingkaran perbedaan budaya di berbagai wilayah. Namun demikian, Code of Hammurabi merupakan cikal bakal dari hukum tertulis yang kemudian diterapkan di dunia modern.
Relief Hammurabi dapat ditemukan di berbagai gedung pemerintahan di Amerika Serikat. Hammurabi adalah satu dari 23 pembuat hukum yang reliefnya terdapat di U.S. House of Representatives di United States Capitol. Relief Hammurabi yang menerima Code of hammurabi dari Dewa Shamash juga terdapat pada dinding selatan U.S. Supreme Court Building.
Nah, jika anda merasa diri keturunan dewa, raja yang memiliki kekuasaan mutlak, dan ingin mengatur kehidupan manusia menjadi lebih baik, barangkali bisa mencoba membuat hukum sendiri. Tentu saja hukum yang sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat saat ini
Babilonia, 1792 - 1750 SM
Arti penting
Hammurabi selain merupakan raja, adalah juga seorang pemimpin agama masyarakat Babilonia. Dengan demikian, Piagam Hammurabi merupakan suatu aturan resmi yang dijalankan oleh masyarakat dan pemerintahan Babilonia. Diperkirakan bahwa dahulu hukum-hukum yang diterbitkan dibuat menjadi piagam (dalam bentuk prasasti) dan diperlihatkan kepada khalayak ramai untuk memperoleh persetujuan. Jadi hukum-hukum bukan dibuat oleh pemerintah semata-mata agar sesuai dengan pendapatnya sendiri. Dalam pengertian ini, Piagam Hammurabi dapat dianggap sebagai pendahulu dari sistem hukum resmi seperti yang saat ini berlaku pada masyarakat modern.
Hammurabi memimpin pasukannya menyerang Akkadia, Elam, Larsa, Mari dan Summeria, sehingga menjadikan Kekaisaran Babilonia hampir sama besar dengan Kerajaan Mesir kuno di bawah Firaun Menes, yang menyatukan Mesir lebih dari seribu tahun sebelumnya.
Piagam Hammurabi
Walaupun Hammurabi banyak sekali melakukan peperangan menaklukkan kerajaan lain, namun ia lebih terkenal karena pada masa pemerintahannya dibuat kode resmi (hukum tertulis) pertama yang tercatat di dunia, yang disebut sebagai Piagam Hammurabi (Codex Hammurabi).
Pada tahun 1901, arkeolog Perancis menemukan piagam tersebut ketika melakukan penggalian di bawah reruntuhan bekas kota kuno Susa, Babilonia. Piagam Hammurabi tersebut terukir di atas potongan batu yang telah diratakan dalam huruf paku (cuneiform). Piagam tersebut seluruhnya ada 282 hukum, akan tetapi terdapat 32 hukum diantaranya yang terpecah dan sulit untuk dibaca. Isinya adalah pengaturan atas perbuatan kriminal tertentu dan ganjarannya. Beberapa contoh isinya, antara lain:
• Seorang yang gagal memperbaiki saluran airnya akan diminta untuk membayar kerugian tetangga yang ladangnya kebanjiran
• Pemuka agama wanita dapat dibakar hidup-hidup jika masuk rumah panggung (umum) tanpa permisi
• Seorang janda dapat mewarisi sebagian dari harta suaminya yang sama besar dengan bagian yang diwarisi oleh anak laki-lakinya
• Seorang dukun yang pasiennya meninggal ketika sedang dioperasi dapat kehilangan tangannya (dipotong)
• Seseorang yang berhutang dapat bebas dari hutangnya dengan memberikan istri atau anaknya kepada orang yang menghutanginya untuk selang waktu tiga tahun
Saat ini, Piagam Hammurabi telah disimpan dan dipamerkan untuk khalayak ramai di Museum Louvre di Paris, Perancis.
Raja Hammurabi adalah orang hebat (ada juga yang mengatakan ‘gila’) yang menciptakan “Code of Hammurabi” atau Hukum Hammurabi, salah satu dari beberapa hukum tertulis yang dibuat beberapa ribu tahun yang lalu. Sebelum ada hukum tertulis, titah raja berlaku sebagai hukum, sehingga tidak ada standar yang sama dan mengikat untuk seluruh rakyat. Code of Hammurabi ini menjadi dasar bagi berbagai aturan hukum yang berlaku di dunia modern saat ini.
Oke, kita kenalan dulu yuuk dengan Pak Hammurabi. Saya kenal Hammurabi pertama kali pada mata kuliah Aspek Hukum di Bidang Konstruksi. Salah satu hukum Hammurabi yang berkaitan dengan bidang konstruksi berbunyi demikian : “Tukang batu yang membuat rumah, dan rumah itu ambruk sehingga menewaskan penghuni yang ada di dalamnya, maka tukang batu tersebut harus dihukum mati”. Holoh, holoh ….
Hukum yang ‘mengerikan’ tersebut sesungguhnya memiliki filosofi tentang jaminan mutu dan profesionalisme, dimana setiap orang harus memiliki profesionalitas dalam bekerja, dan bertanggungjawab atas hasil pekerjaannya.
wajah-hammurabi
Hammurabi adalah raja ke enam dari kerajaan Babylonia, yang menguasai seluruh wilayah Mesopotamia yang subur. Ia lahir pada tahun 1795 BC, dan meninggal pada tahun 1750 BC. Hammurabi seorang raja yang sangat tegas dan disiplin. Ia ingin segala sesuatu berjalan dengan tertib dan teratur, dan semua orang menaati peraturan.
Pada suatu ketika, ia merasa kesal karena banyak gubernur di wilayah kekuasaannya yang tidak mau mengirimkan tentara untuk berperang. Maka ia memerintahkan semua gubernur untuk datang menghadap. Berdatanganlah para pemimpin wilayah itu, dari berbagai suku di Afrika dan Asia Barat. Mereka datang dengan pakaian kebesaran masing-masing. Ada yang datang dengan jubah sutera dan perhiasan emas-perak, ada yang menutup tubuhnya dengan bulu binatang, ada yang hanya bercawat dan melumuri tubuh serta wajahnya dengan cat warna warni, ada yang berambut panjang terjurai-jurai, ada yang mencukur plontos kepalanya. Pokoknya semua tampil dengan ‘dandanan terbaik’ mereka, menurut versi suku dan budaya masing-masing.
Hammurabi kaget melihat rakyatnya yang aneka corak itu. Kerajaan apa ini, yang rakyatnya gado-gado seperti ini, pikirnya. Ini bukan kerajaan yang tertib dan rapi, tapi panggung sirkus, geramnya dengan kesal. Jika dandanan mereka saja centang prenang, amburadul, pasti perilaku mereka pun semau-mau sendiri. Hammurabi urung memberi ceramah tentang pentingnya mengirimkan tentara bagi kerajaan, dan menyuruh semua gubernur dan utusan wilayah itu untuk pulang.
peta-babylonia
Hammurabi kemudian memilih orang-orang kasim yang paling pintar (pada masa itu, orang kasim memiliki kedudukan yang terhormat dan terpercaya di kerajaan), dan menyuruh mereka membuat suatu hukum yang akan mengatur perilaku seluruh orang di wilayah kekuasaan kerajaannya. Maka terciptalah Code of Hammurabi yang terdiri atas 282 hukum. Hukum Hammurabi ini bersifat spesifik, dan selalu disertai dengan sanksi yang berat. Jika dilihat dari perspektif modern masa kini, sanksi yang diberikan oleh Hukum Hammurabi sangat mengerikan, sering kali berupa potong tangan atau hukuman mati. Harus kita pahami, bahwa hukum ini diciptakan hampir empat ribu tahun yang lalu, dimana kehidupan masyarakat pada saat itu masih sangat bar-bar. Maka agar orang takut, ancaman hukuman pun harus memiliki tingkat kekejaman yang tinggi.
Filosofi yang dianut pada penyusunan Code of Hammurabi adalah “Eye for Eye, Tooth for Tooth”, filosofi ‘law of retalitation’ atau filosofi balas dendam.
Beberapa contoh hukum Hammurabi antara lain : seorang biarawati akan dibakar hidup-hidup jika kedapatan memasuki penginapan tanpa ijin, seorang dokter bedah yang pasiennya meninggal saat dalam penanganannya akan kehilangan sebelah tangannya, orang yang mencuri akan dipotong tangannya, orang yang berbohong akan dipotong lidahnya, orang yang …. wah, sudah ah, ngeri …
Ada juga hukum yang ‘a-moral’, yaitu : seorang peminjam dapat menghapus hutangnya setelah tiga tahun bila ia menyerahkan isteri atau anaknya kepada sang pemberi hutang (bersyukurlah semua wanita yang hidup pada zaman sekarang, yang bisa menolak jika akan dipakai untuk membayar hutang). Pada masa itu, perempuan berada pada posisi yang sangat direndahkan, tidak memiliki hak apa pun atas dirinya. Ia dianggap seperti barang yang dimiliki oleh ayah atau suaminya, yang boleh diperlakukan sesuka hati oleh laki-laki yang menguasainya.
Tetapi ada juga hukum yang melindungi perempuan, yaitu : seorang janda berhak mendapatkan warisan sejumlah yang diterima anak lelakinya. Mengingat bahwa pada saat itu perempuan sama sekali tidak memiliki hak (termasuk tidak memiliki hak atas harta benda), dan janda yang ditinggal mati suaminya berada pada posisi paling lemah (karena ia menjadi ‘barang tak bertuan’ yang boleh ‘diambil’ oleh siapa pun), maka hukum ini merupakan pembelaan dan perlindungan yang sangat besar maknanya bagi perempuan.
patung-code-of-hammurabi
Gambar di atas menunjukkan Hammurabi yang menerima Code of Hammurabi dan penghormatan dari dewa Babylonia, yaitu Dewa Marduk atau Shamash. Relief tersebut terdapat pada bagian atas prasasti Hammurabi yang sekarang disimpan di Musee du Louvre, Paris. Prasasti ini terbuat dari batu, tingginya sekitar 2 meter dengan lebar 70 cm. Di bawah relief tersebut dipahatkan hukum Hammurabi yang terdiri atas 282 pasal dalam bahasa Akkadian. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1901 oleh seorang egyptologist (ahli tentang Mesir) bernama Gustave Jequier di Khuzestan, Iran.
Setelah hukum Hammurabi selesai disusun oleh orang-orang kasim jempolan itu, hukum tersebut kemudian dipahat pada lempengan-lempengan batu dan dipasang di tempat umum, sehingga seluruh rakyat bisa membacanya. Prasati itu diperbanyak dan disebarkan ke seluruh wilayah kekuasaan Hammurabi yang sangat luas.
Hammurabi sangat puas berhasil menciptakan hukum bagi seluruh umatnya. Dia, yang menganggap diri adalah dewa, berkeyakinan bahwa setelah hukum itu diundangkan, rakyat di seluruh wilayah kekuasaannya akan hidup tertib, rapi, semua terkontrol, dan semua memiliki standar perilaku yang sama.
Tapi apa yang terjadi?
Oleh karena pasal-pasal dalam hukum Hammurabi dibuat sangat spesifik, dan kebanyakan mengacu pada keadaan yang ditemui di Mesopotamia serta ditulis dalam bahasa Babylonia, maka kekacauan terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki budaya dan bahasa berbeda.
Suatu ketika, tiga orang utusan membawa batu prasasti bertuliskan hukum Hammurabi ke daerah Hinterland. Mereka melintasi gurun yang sangat luas dan panas tak terkira selama berhari-hari. Ketika akhirnya tiba di sebuah oase, mereka yang sudah sangat kehausan itu ingin minum. Namun, mereka kebingungan ketika membaca aturan nomor 214 yang berbunyi : “Barang siapa yang ingin minum pada saat ia sedang bepergian harus segera mengikat keledainya pada sebatang pohon dengan aman”.
Peraturan ini sesungguhnya dimaksudkan untuk melindungi keledai dari perlakuan pemiliknya yang sewenang-wenang, karena binatang ini memiliki nilai yang tinggi di tanah milik Hammurabi. Celakanya, para pembawa prasasti ini berasal dari Hinterlands, dan pada aturan itu keledai disebut dengan istilah “ass”, sementara dalam bahasa Hinterlands, “ass” berarti pantat. Lagipula, orang-orang tersebut tidak membawa keledai, melainkan onta. Maka, mereka mengikatkan pantat mereka ke pohon, dan meregangkan tubuh mereka untuk mencapai tepian danau di oase tersebut agar bisa minum. Namun karena jarak pohon tersebut terlalu jauh, maka mereka tak pernah berhasil mencapai tepian danau, dan akhirnya tewas. Adapun onta-onta yang mereka tunggangi, setelah minum sepuas-puasnya, lalu melenggang pergi meninggalkan ketiga tuannya. Karena tidak tahu tujuannya, onta-onta itu tersesat dan tidak pernah sampai ke Hinterlands. Maka hukum Hammurabi tidak pernah diterapkan di wilayah itu.
Kisah sedih yang lain terjadi di Etiopia. Di sini, terdapat kebiasaan yang mengharuskan seorang pembuat roti menyisakan satu loyang roti setiap kali mereka memanggang, sebagai derma bagi kaum miskin. Roti ini ditaruh di sebuah jendela, dan para fakir miskin akan mengambilnya karena tahu roti itu memang disediakan untuk mereka. Tradisi yang terpuji ini sudah berlaku dari generasi ke generasi, dan menjadi pranata sosial yang membuat orang miskin hidup tenteram. Tapi hukum Hammurabi mengubah semua itu.
Hukum no 764 berbunyi : “Barang siapa mengambil barang apa pun yang tidak ia beli, dinyatakan bersalah atas tuduhan pencurian dan akan kehilangan tangannya.” Empat puluh orang papa kehilangan lengan mereka satu hari setelah prasasti hukum Hammurabi tiba di tempat itu.
Masih banyak kisah tragis pada penerapan hukum Hammurabi, akibat salah persepsi dan pengingkaran perbedaan budaya di berbagai wilayah. Namun demikian, Code of Hammurabi merupakan cikal bakal dari hukum tertulis yang kemudian diterapkan di dunia modern.
Relief Hammurabi dapat ditemukan di berbagai gedung pemerintahan di Amerika Serikat. Hammurabi adalah satu dari 23 pembuat hukum yang reliefnya terdapat di U.S. House of Representatives di United States Capitol. Relief Hammurabi yang menerima Code of hammurabi dari Dewa Shamash juga terdapat pada dinding selatan U.S. Supreme Court Building.
Nah, jika anda merasa diri keturunan dewa, raja yang memiliki kekuasaan mutlak, dan ingin mengatur kehidupan manusia menjadi lebih baik, barangkali bisa mencoba membuat hukum sendiri. Tentu saja hukum yang sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat saat ini
Babilonia, 1792 - 1750 SM
Arti penting
Hammurabi selain merupakan raja, adalah juga seorang pemimpin agama masyarakat Babilonia. Dengan demikian, Piagam Hammurabi merupakan suatu aturan resmi yang dijalankan oleh masyarakat dan pemerintahan Babilonia. Diperkirakan bahwa dahulu hukum-hukum yang diterbitkan dibuat menjadi piagam (dalam bentuk prasasti) dan diperlihatkan kepada khalayak ramai untuk memperoleh persetujuan. Jadi hukum-hukum bukan dibuat oleh pemerintah semata-mata agar sesuai dengan pendapatnya sendiri. Dalam pengertian ini, Piagam Hammurabi dapat dianggap sebagai pendahulu dari sistem hukum resmi seperti yang saat ini berlaku pada masyarakat modern.
Babylonia
Babilonia merupakan negara purba yang terletak di Selatan Mesopotamia. Daerah Mesopotamia diapit dua aliran sungai, yaitu sungai Eufrat dan Tigris. Tanah di sekitar dua sungai tersebut sangat subur dan luas namun pertahanan alamnya kurang memadai sehingga menjadi sasaran bangsa-bangsa sekitarnya untuk dikuasai.
Bangsa pertama yang menduduki Mesopotamia adalah Sumeria pada sekitar 3000 SM. Peninggalan Bangsa Sumeria yang terpenting adalah Ziggurat yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Tulisan paku (cuneiform) yang kemudian dikembangkan oleh Bangsa Romawi menjadi huruf latin juga merupakan peninggalan Bangsa Sumeria.
Bangsa Sumeria memperkenalkan sistem angka hitungan dengan dasar 60 (sixagesimal). Pengetahuan ini menjadi dasar perhitungan waktu yang kita gunakan sekarang ini. Mereka menghitung satu jam sama dengan 60 menit dan satu menit sama dengan 60 detik.
Kekuasaan Banga Sumeria berakhir pada 2350 SM setelah ditaklukkan oleh Bangsa Akkadia di bawah kepemimpinan Sargon. Kata Babilon berasal dari Bahasa Akkadia yang berarti gerbang tuhan.
Kebudayaan Bangsa Akkadia dan Sumeria tidak jauh berbeda. Bangsa Akkadia meniru kebudayaan Bangsa Sumeria yang lebih berkembang. Bahkan beberapa kebudayaan berakulturasi sehingga melahirkan Kebudayaan Sumer-Akkad.
Sekitar 1900 SM Bangsa Akkadia dikalahkan oleh Bangsa Amorit. Mereka mendirikan Kerajaan Babilonia dengan ibukota di Babilon. Kerajaan Babilonia mencapai puncak keemasannya pada masa pemerintahan Raja Hammurabi.
Salah satu peninggalan yang paling bernilai adalah Codex Hammurabi. Menurut kepercayaan mereka, Codex Hammurabi berisi hukum yang berasal dari pemberian Dewa Marduk-tuhan tertinggi. Agar senantiasa ditaati masyarakat, Codex Hammurabi yang merupakan peraturan tertulis pertama di dunia dipahat di balok batu hitam dan ditempatkan di tengah ibukota. Pembalasan yang menjadi inti Codex Hammurabi membuktikan bahwa sejak abad 18 sudah ada pemimpin yang memperlakukan anggota masyarakatnya dengan adil dan bijaksana demi tercapainya ketertiban masyarakat.
Setelah Hammurabi meninggal dunia, Bangsa Babilonia terpecah belah dan diruntuhkan oleh Bangsa Huthit/Hittit. Selanjutnya pada 1200 SM Mesopotamia dikuasai oleh Bangsa Assyria.
Bangsa Assyria berhasil membentuk imperium yang besar dengan menaklukkan bangsa-bangsa di sekitarnya sehingga digelari Bangsa Roma dari Asia. Pertahanan Bangsa Assyria yang bercorak militer dilihat dari pasukan infantri, kavaleri dan tentara yang banyak serta kereta perang yang sangat kuat.
Selain mengembangkan sistem pemerintahan diktator militer, Bangsa Assyria juga memajukan pendidikan dan pengetahuan. Assurbanipal, seorang Raja Assyria, membuat 22000 buah lempengan tanah liat yang memuat tulisan tentang hal keagamaan, sastra, pengobatan, matematika, ilmu pengetahuan alam, kamus dan sejarah. Lempengan-lempengan tersebut disimpan di perpustakaan Niniveh yang kini menjadi perpustakaan tertua di dunia.
Pada 612 SM, Bangsa Assyria hancur oleh serangan Bangsa Khaldea. Di bawah kepemimpinan Raja Nabopalassar, Bangsa Khaldea membangun kembali Kota Babilon dan menjadikannya sebagai pusat Kerajaan Babilonia Baru. Bangsa Khaldea mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Nebukadnezar. Seorang sejarawan Mesir kuno, Herodotus, menyatakan bahwa keindahan Kota Babilon melampaui keindahan kota-kota tersohor di dunia.
Bukti Cinta
Peninggalan Bangsa Babilon Baru yang paling menarik adalah menara babel yang berfungsi sebagai mercusuar dan keindahan taman gantung.
Taman gantung dibangun oleh Raja Nebukadnezar-cucu Raja Hammurabi juga anak Raja Nabopalassar-sekitar tahun 600 SM untuk melipur kesedihan istrinya, Amytis, yang merindukan pohon-pohon dan tanaman-tanaman wangi yang tumbuh di kampung halamannya, Persia. Amytis berasal dari Media yang keadaan lahannya bertolak belakang dengan Babilonia, penuh dengan padang rumput hijau dan bergunung-gunung. Pernikahan Nebukadnezar dengan Amytis bertujuan politik, yaitu untuk membentuk aliansi antar bangsa.
Bangsa pertama yang menduduki Mesopotamia adalah Sumeria pada sekitar 3000 SM. Peninggalan Bangsa Sumeria yang terpenting adalah Ziggurat yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Tulisan paku (cuneiform) yang kemudian dikembangkan oleh Bangsa Romawi menjadi huruf latin juga merupakan peninggalan Bangsa Sumeria.
Bangsa Sumeria memperkenalkan sistem angka hitungan dengan dasar 60 (sixagesimal). Pengetahuan ini menjadi dasar perhitungan waktu yang kita gunakan sekarang ini. Mereka menghitung satu jam sama dengan 60 menit dan satu menit sama dengan 60 detik.
Kekuasaan Banga Sumeria berakhir pada 2350 SM setelah ditaklukkan oleh Bangsa Akkadia di bawah kepemimpinan Sargon. Kata Babilon berasal dari Bahasa Akkadia yang berarti gerbang tuhan.
Kebudayaan Bangsa Akkadia dan Sumeria tidak jauh berbeda. Bangsa Akkadia meniru kebudayaan Bangsa Sumeria yang lebih berkembang. Bahkan beberapa kebudayaan berakulturasi sehingga melahirkan Kebudayaan Sumer-Akkad.
Sekitar 1900 SM Bangsa Akkadia dikalahkan oleh Bangsa Amorit. Mereka mendirikan Kerajaan Babilonia dengan ibukota di Babilon. Kerajaan Babilonia mencapai puncak keemasannya pada masa pemerintahan Raja Hammurabi.
Salah satu peninggalan yang paling bernilai adalah Codex Hammurabi. Menurut kepercayaan mereka, Codex Hammurabi berisi hukum yang berasal dari pemberian Dewa Marduk-tuhan tertinggi. Agar senantiasa ditaati masyarakat, Codex Hammurabi yang merupakan peraturan tertulis pertama di dunia dipahat di balok batu hitam dan ditempatkan di tengah ibukota. Pembalasan yang menjadi inti Codex Hammurabi membuktikan bahwa sejak abad 18 sudah ada pemimpin yang memperlakukan anggota masyarakatnya dengan adil dan bijaksana demi tercapainya ketertiban masyarakat.
Setelah Hammurabi meninggal dunia, Bangsa Babilonia terpecah belah dan diruntuhkan oleh Bangsa Huthit/Hittit. Selanjutnya pada 1200 SM Mesopotamia dikuasai oleh Bangsa Assyria.
Bangsa Assyria berhasil membentuk imperium yang besar dengan menaklukkan bangsa-bangsa di sekitarnya sehingga digelari Bangsa Roma dari Asia. Pertahanan Bangsa Assyria yang bercorak militer dilihat dari pasukan infantri, kavaleri dan tentara yang banyak serta kereta perang yang sangat kuat.
Selain mengembangkan sistem pemerintahan diktator militer, Bangsa Assyria juga memajukan pendidikan dan pengetahuan. Assurbanipal, seorang Raja Assyria, membuat 22000 buah lempengan tanah liat yang memuat tulisan tentang hal keagamaan, sastra, pengobatan, matematika, ilmu pengetahuan alam, kamus dan sejarah. Lempengan-lempengan tersebut disimpan di perpustakaan Niniveh yang kini menjadi perpustakaan tertua di dunia.
Pada 612 SM, Bangsa Assyria hancur oleh serangan Bangsa Khaldea. Di bawah kepemimpinan Raja Nabopalassar, Bangsa Khaldea membangun kembali Kota Babilon dan menjadikannya sebagai pusat Kerajaan Babilonia Baru. Bangsa Khaldea mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Nebukadnezar. Seorang sejarawan Mesir kuno, Herodotus, menyatakan bahwa keindahan Kota Babilon melampaui keindahan kota-kota tersohor di dunia.
Bukti Cinta
Peninggalan Bangsa Babilon Baru yang paling menarik adalah menara babel yang berfungsi sebagai mercusuar dan keindahan taman gantung.
Taman gantung dibangun oleh Raja Nebukadnezar-cucu Raja Hammurabi juga anak Raja Nabopalassar-sekitar tahun 600 SM untuk melipur kesedihan istrinya, Amytis, yang merindukan pohon-pohon dan tanaman-tanaman wangi yang tumbuh di kampung halamannya, Persia. Amytis berasal dari Media yang keadaan lahannya bertolak belakang dengan Babilonia, penuh dengan padang rumput hijau dan bergunung-gunung. Pernikahan Nebukadnezar dengan Amytis bertujuan politik, yaitu untuk membentuk aliansi antar bangsa.
Babilon dan Sindrom Menara Babel
SEJARAWAN Mesir kuno, Herodotus, yang hidup sekitar tahun 450 SM, pernah mengatakan, "Keindahan Kota Babilon melampaui keindahan kota-kota tersohor di dunia." Ia mengatakan hal itu setelah melihat tembok kota yang dibangun Raja Nebuchadnezzar II yang berkuasa selama 43 tahun-sejak tahun 605 SM-begitu indah dan kokoh.
Nebuchadnezzar pula yang membangun Taman Gantung. Konon, menurut cerita, taman itu dibangun Nebuchadnezzar untuk menghibur istrinya, Amyitis, putri Raja Medes dari Media yang kangen pada kampung halamannya. Agar Amyitis betah tinggal di Babilon, maka dibangunlah taman itu yang kini tercatat sebagai salah satu keajaiban dunia.
Perkimpoian Nebuchadnezzar dan Amyitis adalah perkimpoian politik. Tujuan utama Nebuchadnezzar adalah mempersatukan Kerajaan Babilonia dan Media.
Diodorus Siculus, sejarawan Yunani pada masa itu, menggambarkan hebatnya Taman Gantung bagi Amyitis. Menurut Diodorus, lebar taman itu 400 kaki (sekitar 130 meter), panjangnya 400 kaki, sedangkan tingginya lebih dari 80 kaki (sekitar 26 meter). Padahal, tembok Kota Babilon, menurut Herodotus, 320 kaki (sekitar 106 meter).
Cerita Taman Gantung Babilon adalah cerita cinta antara Nebuchadnezzar dan Amyitis. Kisah ini mirip cerita pembangunan Taj Mahal di Agra, India. Taj Mahal adalah bangunan cinta.
Salah satu bangunan yang disebut paling indah di dunia itu dibangun atas perintah Sultan Sjah Jahan (Sjahjahan). Adalah "cinta dan kesetiaan" pada istrinya, Arjumand Bano Begum yang juga dikenal dengan nama Begum Mumtaz Mahal (Mahkota Kerajaan), yang mendorong Sjah Jahan memerintahkan untuk membangun Taj Mahal.
Bangunan makam yang terbuat dari marmer putih itu dibangun pada tahun 1631-1653 dengan mengerahkan 22.000 pekerja serta puluhan arsitek, seniman, dan ahli bangunan dari berbagai negara, termasuk Italia dan Perancis. Batu marmer dikumpulkan dari seluruh India, seperti Makrana dan Rajasthan. Batu-batu khusus didatangkan dari Rusia, Cina, Afganistan, Persia, Asia Tengah, dan Yaman.
Kini, peninggalan Kerajaan Dinasti Neo-Babilonia itu masih dapat disaksikan di Babilon. Kompleks kota raja konon luasnya 21 kilometer persegi. Ekskavasi hingga kini terus dilakukan. Di antara yang sudah terlihat dan sudah direstorasi adalah Istana Nebuchadnezzar yang total luasnya 52.000 meter persegi. Selain itu, bangunan lain yang sudah direstorasi adalah Kuil Ishter, Kuil Nabu, dan Kuil Ninimakh serta Pintu Gerbang Ishtar (ini merupakan pintu gerbang yang menghadap ke utara).
CERITA tentang Babilon tidak bermula dari sini. Bertahun-tahun sebelumnya, ketika dunia "masih muda", cerita tentang Babilon sudah ada. Kota yang terletak sekitar 90 kilometer sebelah selatan Baghdad dan diapit dua sungai besar, Tigris dan Eufrat, itu memang kaya legenda, cerita, dan sejarah. Misalnya, cerita tentang Menara Babel.
Kisah Menara Babel yang melambangkan keangkuhan, kesombongan manusia, itu sudah disebut-sebut dalam Kitab Penciptaan, Kitab Suci Perjanjian Lama. Pembangunan menara itu diprakarsai oleh Nimrod, anak cucu Nabi Nuh di zaman Babilon kuno, jauh tahun sebelum zaman Nebuchadnezzar. Orangtua Nimrod adalah Cush, putra Ham.
Bahkan, demikian menurut cerita, Kota Babilon dan Ninive juga mula pertama dibangun oleh Nimrod. "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota, dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Marilah kita cari nama supaya kita jangan terserak ke seluruh Bumi," demikian antara lain bunyi ajakan Nimrod kepada orang-orangnya, seperti yang ditulis dalam Kitab Penciptaan.
Lambert Dolphin dalam The Tower of Babel and The Confusion of Languages berusaha mencari jawaban mengapa mereka membangun menara seperti itu. Untuk apa menara itu dibangun? Mencari kepuasan diri dan kemegahan diri. Itulah jawaban singkat Lambert Dolphin.
Pembangunan sebuah kota, seperti yang dilakukan Nimrod ketika itu, melambangkan dambaan manusia untuk terus berkumpul. Mereka, ketika itu, takut tercerai-berai dan hidup di tempat yang belum mereka kenal berhadapan dengan bahaya. Karena itu, didirikanlah sebuah kota-Babilon dan Ninive-sebagai pusat kegiatan, sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Akan tetapi, ketika mereka membangun menara dengan mengatakan, "Marilah kita cari nama, marilah memegahkan diri", di saat itulah kemanusiaan manusia berkuasa. Menara dibangun untuk kebutuhan badan, jiwa, dan semangat. Bahkan, mereka ingin membangun menara yang mencapai langit. Kalau perlu dapat memanah Matahari dari puncak menara. Pendek kata, menara dibangun untuk pemuasan diri.
Inilah, yang menurut kisah, yang menjadi penyebab turunnya hukuman dari Tuhan sehingga mereka tercerai-berai dan tidak bisa memahami bahasa mereka satu sama lain.
Sindrom Menara Babel itu pula, yang menurut para sejarawan, merasuki Nebuchadnezzar II, yakni dengan membangun Taman Gantung dan Menara Babel di kompleks istananya. Ia membangun kompleks istana begitu megah, yang sekarang sisa-sisanya masih bisa dilihat, dan memerintah dengan tangan besi.
Babilon di zaman Nebuchadnezzar II, yang memerintah pada tahun 605-562 SM, mencapai masa keemasan.
SAAT pasukan gabungan pimpinan AS menggempur Irak sekarang ini, cerita Menara Babel itu muncul lagi. Apa yang dicari George W Bush? Apakah ia seperti Nimrod dan orang-orang yang mengatakan, "Marilah kita cari nama", saat hendak membangun Menara Babel?
Kalaupun Bush tidak mengatakan seperti itu, suka tidak suka, saat ini sindrom Menara Babel itu sudah merasuki dunia. Pembangunan Menara Babel dimaksudkan untuk menyeragamkan manusia zaman itu dalam satu budaya.
Saat ini pun demikian. Semua ada di bawah dominasi budaya, yakni budaya kapitalisme, satu hegemoni, yakni hegemoni komunikasi AS. AS yang merupakan satu-satunya adikuasa di dunia ini berusaha memaksakan kehendaknya dengan segala cara dan upaya, termasuk perang.
Ketika Divisi Infanteri Ke-3 AS bergerak dari Kuwait ke Baghdad beberapa hari lalu, banyak yang khawatir akan nasib situs sejarah yang sebenarnya dapat mengajak orang untuk selalu bercermin bahwa memegahkan diri, mencari nama untuk diri sendiri, adalah awal dari kehancuran.
Hingga kini, memang Babilon masih selamat. Tetapi, andaikan nanti Kota Babilon-kata Babilon berasal dari bahasa Akkadia dan berarti Pintu Tuhan-menjadi sasaran, maka semuanya hanya akan tinggal cerita: cerita tentang kebesaran Babilon.
sumber:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0...ama/223950.htm
Nebuchadnezzar pula yang membangun Taman Gantung. Konon, menurut cerita, taman itu dibangun Nebuchadnezzar untuk menghibur istrinya, Amyitis, putri Raja Medes dari Media yang kangen pada kampung halamannya. Agar Amyitis betah tinggal di Babilon, maka dibangunlah taman itu yang kini tercatat sebagai salah satu keajaiban dunia.
Perkimpoian Nebuchadnezzar dan Amyitis adalah perkimpoian politik. Tujuan utama Nebuchadnezzar adalah mempersatukan Kerajaan Babilonia dan Media.
Diodorus Siculus, sejarawan Yunani pada masa itu, menggambarkan hebatnya Taman Gantung bagi Amyitis. Menurut Diodorus, lebar taman itu 400 kaki (sekitar 130 meter), panjangnya 400 kaki, sedangkan tingginya lebih dari 80 kaki (sekitar 26 meter). Padahal, tembok Kota Babilon, menurut Herodotus, 320 kaki (sekitar 106 meter).
Cerita Taman Gantung Babilon adalah cerita cinta antara Nebuchadnezzar dan Amyitis. Kisah ini mirip cerita pembangunan Taj Mahal di Agra, India. Taj Mahal adalah bangunan cinta.
Salah satu bangunan yang disebut paling indah di dunia itu dibangun atas perintah Sultan Sjah Jahan (Sjahjahan). Adalah "cinta dan kesetiaan" pada istrinya, Arjumand Bano Begum yang juga dikenal dengan nama Begum Mumtaz Mahal (Mahkota Kerajaan), yang mendorong Sjah Jahan memerintahkan untuk membangun Taj Mahal.
Bangunan makam yang terbuat dari marmer putih itu dibangun pada tahun 1631-1653 dengan mengerahkan 22.000 pekerja serta puluhan arsitek, seniman, dan ahli bangunan dari berbagai negara, termasuk Italia dan Perancis. Batu marmer dikumpulkan dari seluruh India, seperti Makrana dan Rajasthan. Batu-batu khusus didatangkan dari Rusia, Cina, Afganistan, Persia, Asia Tengah, dan Yaman.
Kini, peninggalan Kerajaan Dinasti Neo-Babilonia itu masih dapat disaksikan di Babilon. Kompleks kota raja konon luasnya 21 kilometer persegi. Ekskavasi hingga kini terus dilakukan. Di antara yang sudah terlihat dan sudah direstorasi adalah Istana Nebuchadnezzar yang total luasnya 52.000 meter persegi. Selain itu, bangunan lain yang sudah direstorasi adalah Kuil Ishter, Kuil Nabu, dan Kuil Ninimakh serta Pintu Gerbang Ishtar (ini merupakan pintu gerbang yang menghadap ke utara).
CERITA tentang Babilon tidak bermula dari sini. Bertahun-tahun sebelumnya, ketika dunia "masih muda", cerita tentang Babilon sudah ada. Kota yang terletak sekitar 90 kilometer sebelah selatan Baghdad dan diapit dua sungai besar, Tigris dan Eufrat, itu memang kaya legenda, cerita, dan sejarah. Misalnya, cerita tentang Menara Babel.
Kisah Menara Babel yang melambangkan keangkuhan, kesombongan manusia, itu sudah disebut-sebut dalam Kitab Penciptaan, Kitab Suci Perjanjian Lama. Pembangunan menara itu diprakarsai oleh Nimrod, anak cucu Nabi Nuh di zaman Babilon kuno, jauh tahun sebelum zaman Nebuchadnezzar. Orangtua Nimrod adalah Cush, putra Ham.
Bahkan, demikian menurut cerita, Kota Babilon dan Ninive juga mula pertama dibangun oleh Nimrod. "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota, dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Marilah kita cari nama supaya kita jangan terserak ke seluruh Bumi," demikian antara lain bunyi ajakan Nimrod kepada orang-orangnya, seperti yang ditulis dalam Kitab Penciptaan.
Lambert Dolphin dalam The Tower of Babel and The Confusion of Languages berusaha mencari jawaban mengapa mereka membangun menara seperti itu. Untuk apa menara itu dibangun? Mencari kepuasan diri dan kemegahan diri. Itulah jawaban singkat Lambert Dolphin.
Pembangunan sebuah kota, seperti yang dilakukan Nimrod ketika itu, melambangkan dambaan manusia untuk terus berkumpul. Mereka, ketika itu, takut tercerai-berai dan hidup di tempat yang belum mereka kenal berhadapan dengan bahaya. Karena itu, didirikanlah sebuah kota-Babilon dan Ninive-sebagai pusat kegiatan, sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Akan tetapi, ketika mereka membangun menara dengan mengatakan, "Marilah kita cari nama, marilah memegahkan diri", di saat itulah kemanusiaan manusia berkuasa. Menara dibangun untuk kebutuhan badan, jiwa, dan semangat. Bahkan, mereka ingin membangun menara yang mencapai langit. Kalau perlu dapat memanah Matahari dari puncak menara. Pendek kata, menara dibangun untuk pemuasan diri.
Inilah, yang menurut kisah, yang menjadi penyebab turunnya hukuman dari Tuhan sehingga mereka tercerai-berai dan tidak bisa memahami bahasa mereka satu sama lain.
Sindrom Menara Babel itu pula, yang menurut para sejarawan, merasuki Nebuchadnezzar II, yakni dengan membangun Taman Gantung dan Menara Babel di kompleks istananya. Ia membangun kompleks istana begitu megah, yang sekarang sisa-sisanya masih bisa dilihat, dan memerintah dengan tangan besi.
Babilon di zaman Nebuchadnezzar II, yang memerintah pada tahun 605-562 SM, mencapai masa keemasan.
SAAT pasukan gabungan pimpinan AS menggempur Irak sekarang ini, cerita Menara Babel itu muncul lagi. Apa yang dicari George W Bush? Apakah ia seperti Nimrod dan orang-orang yang mengatakan, "Marilah kita cari nama", saat hendak membangun Menara Babel?
Kalaupun Bush tidak mengatakan seperti itu, suka tidak suka, saat ini sindrom Menara Babel itu sudah merasuki dunia. Pembangunan Menara Babel dimaksudkan untuk menyeragamkan manusia zaman itu dalam satu budaya.
Saat ini pun demikian. Semua ada di bawah dominasi budaya, yakni budaya kapitalisme, satu hegemoni, yakni hegemoni komunikasi AS. AS yang merupakan satu-satunya adikuasa di dunia ini berusaha memaksakan kehendaknya dengan segala cara dan upaya, termasuk perang.
Ketika Divisi Infanteri Ke-3 AS bergerak dari Kuwait ke Baghdad beberapa hari lalu, banyak yang khawatir akan nasib situs sejarah yang sebenarnya dapat mengajak orang untuk selalu bercermin bahwa memegahkan diri, mencari nama untuk diri sendiri, adalah awal dari kehancuran.
Hingga kini, memang Babilon masih selamat. Tetapi, andaikan nanti Kota Babilon-kata Babilon berasal dari bahasa Akkadia dan berarti Pintu Tuhan-menjadi sasaran, maka semuanya hanya akan tinggal cerita: cerita tentang kebesaran Babilon.
sumber:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0...ama/223950.htm
Mitos dan Kebenaran
Sejarah 3000 tahun Babylonia dan kebudayaan negeri Barat
Berlokasi di Museum Island, museum Berlin Pergamon adalah salah satu museum terkenal yang banyak di kunjungi oleh turis yang berkunjung di kota tersebut. Menggelar pameran “Babylonia – Mitos dan Kebenaran”, suatu proyek komunitas dunia.
Benda-benda berharga tersebut milik Museum Pergamon, sebagaimana juga artifak berharga lainnya yang dipinjam dari museum-museum lain, juga ikut dipamerkan dalam pameran ini, termasuk dari Louvre di Paris, British Museum di London dan Stattliche Museum di Berlin.
Pengunjung banyak berdatangan. Setelah melewati pintu depan Ischtar yang sangat mengesankan, mereka memandang lepas jalannya prosesi Babylonia sepanjang 30 meter dan memulai penjelajahan ke dunia lain.
Tema bagian pertama adalah “Realitas”. Lebih dari 800 obyek budaya mengundang pengunjung untuk mengetahui budaya Babylonia, salah satu kebudayaan kuno di Asia timur yang terkenal.
Obyek budaya tersebut di bagi dalam 10 topik yang berbeda, seperti patung, relief, sesaji upacara keagamaan, potongan karya arsitektur, kitab suci bangsa Babylonia dan berbagai macam perkakas kebudayaan kuno.
Penguasa Babylonia
Saat memasuki seksi yang berjudul “Kerajaan”, pengunjung diajak untuk mempelajari para penguasa Babylonia, dimulai dengan Hammurabi (1792 – 1750 SM) raja Babylonia ke-6. Setelah memegang kekuasaan selama 30 tahun, Hammurabi melalui kampanye militernya berhasil menyatukan sejumlah kerajaan yang ada di sekitar wi-layahnya dan menjadi raja pertama dalam Kekaisaran Babylonia.
Hammurabi boleh jadi sangat menguasai pengembangan bidang hukum selama ia berkuasa dan dikenal dengan Kode Hammurabi. Kode ini mengedepankan prinsip “Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi”. Ini merupakan kode hukum yang paling tua dan paling komplit dari zaman kuno. Tertera di atas kolom setinggi 2,25 meter, namun juga tersedia salinannya yang ditempatkan setinggi mata agar lebih jelas untuk mengamati.
Babylonia berkembang menjadi sebuah kekuatan yang sangat berpengaruh di Asia Timur kuno melalui cara kampanye militernya. Pada bagian dalam pameran ini juga memperlihatkan informasi sejarah pasca Babylonia atau para penguasa Chaldean.
Pajangan berikutnya menyajikan tentang dunia arsitektur, religi, perundangundangan dan hukum, aktivitas bisnis, kehidupan sehari-hari dan juga tempat suci Babylonia, yang selanjutnya menye-diakan pengunjung resensi sejarah yang luas dari kebudayaan Babylonia dan perkembangannya.
Bahasa tulisan Babylonia terdiri dari 600 hieroglyphs (tulisan gambar) yang berbeda. Mereka dapat bertahan dalam bentuk tulisan kuno berbentuk baji, yang ditulis di atas lempengan tanah liat, batu dan pilar. Prasasti tersebut tertulis pada batu atau lemping, dengan cara digores atau dipahat permukaannya.
Membutuhkan hampir 10 tahun pendidikan untuk mempelajari seluruh 600 hieroglyphs, dan sangat sedikit pakar Babylonia yang menguasainya.
Menara Babel
Pengunjung dapat mengamati perkembangan budaya Babylonia dengan mengamati struktur bangunan. Dengan sebuah dinding dalam ganda, sebuah tembok luar yang melingkari pinggiran sungai timur, dan sebuah benteng di bagian utara kota, menjadikan Babylonia sebagai kota yang sangat terlindung pada zaman itu.
Dengan begitu banyaknya bangunan yang berbeda tipe dan juga proyek-proyek konstruksi lainnya, para leluhur merasa itu seharusnya termasuk dalam salah satu keajaiban dunia.
Banyak bangunan yang di persembahkan untuk Marduk, dewa pelindung Babylonia. Meskipun pada awalnya dia dihormati sebagai dewa pelindung sebuah kota kecil, namun selanjutnya dia dipuja sebagai dewa yang tertinggi.
Banyak cerita dan seni yang dilakukan untuk memuja Marduk. Menara Babel juga dikenal dengan “Zikkurat of Etemenanki” adalah persembahan untuk Marduk.
Penggalian arkeologi 1913, untuk fondasi kuil memberi kepastian akan keberadaan menara ini. Peristiwa penting sejarah dalam Alkitab, juga dipresentasikan dalam pameran. Beberapa diantaranya ditunjang oleh bukti arkeologis sedang beberapa lainnya tidak.
Sebagai contoh catatan dalam Alkitab kisah menara Babel sampai kini tidak cukup mendukung, tetap ditemukan beberapa kebenaran.
Menara “Etemenaki” pada kenyataannya pernah ada. Memiliki ketinggian 92 meter dan diketahui pada saat itu adalah bangunan yang tinggi.
Juga menurut riset, pertama dapat dilacak naskah sistem penulisan bangsa Sumerian, yang berkembang 5000 tahun lalu. Bangsa Sumerian dipertimbangkan sebagai leluhur bangsa Babilonia.
Bangsa Babylonia korup dan mengalami kemerosotan moralitas
Bagian kedua pameran tersebut diberi judul “Mitos”. Di sini, bagian yang dilalui mengambil petikan dari Alkitab, para penyelenggara pameran memperlihatkan aneka ragam kepercayaan dan penafsiran pentingnya sejarah Babylonia melalui penyelamatkan seni dan budaya pada saat ini.
Referensi seperti “Babylonian Jumble of Voices,” “Harlot Babylon,” “Babylon’s Gomorrah”, dan lokasi wahyu diperkenalkan dan di bahas.
Karena pemahaman yang berkaitan dengan deskripsi Alkitab mengenai Babylonia seringkali dibandingkan dengan norma-norma masyarakat saat itu, maka dimana terdapat berbagai macam tafsiran pada masa itu.
Keturunan budak hitam di Jamaika dan anggota gerakan Rastafarian menemukan adanya persamaan antara perbudakan bangsa Babylonia dari orang Israel, sebagaimana yang dijelaskan dalam Alkitab, dengan pendeportasian leluhur bangsa Afrika ke Amerika. Pemakaian istilah “sistem Babylonia” adalah merujuk pada korupsi di orang Barat atau dunia kulit putih.
Konsep ini tersebar melalui musik reggae, dan pada masa “sistem Babylonia” ini, dapat dikonotasikan pada eksploitasi, penindasan, kemerosotan, materialisme, konsumerisme, pencarian sta-tus, korupsi, egoisme, kebodohan dan kebencian antar sesama manusia, sebagaimana halnya konsep rasis dan fasis.
Terdapat sembilan seksi pada bagian kedua pameran tersebut. Video dan karya seni klasik dihadirkan sebagai contoh moralitas dan penyelewengan, fiksi dan realitas, harapan dan kegelisahan, pemujaan dan pemberontakan.
Sebagai contoh menara Babel mewakili keangkuhan dan jalan kecil yang sarat dengan dukacita dan kesakitan. Masih pada waktu yang sama, juga ditampilkan pencarian terhadap pengetahuan, pencerahan, harapan dan keyakinan.
Dengan kata lain, simbolisme dari Menara tersebut adalah sebagai peringatan ketika berjalan sampai di jurang yang sangat dalam, seharusnya mendengarkan hati nurani, membatasi diri, dan mengangkat diri sendiri pada tingkat pencerahan yang lebih tinggi. Pameran Babylonia menunjukkan aspek mendalam pada pengalaman manusia.
Pelukis dan pemahat Inggris yang terkenal John Martin (1789 – 1854) melukiskan konsep tentang Babylonia sebagai tempat dimana seorang manusia menghadapi konflik dan kesangsian dalam dirinya, membawa pada keinginan untuk menyadari nafsunya versus pengakuan akan kebutuhan pengendalian diri.
Dalam pandangan ini, Babylonia memiliki hubungan yang mendalam untuk kita semua, ketika mempertimbangkan dari sebuah prespektif sejarah. Mengamati dengan bijaksana pada pameran yang luarbiasa ini, dapat mempelajari lebih lanjut kedalam paradok Babylonia untuk menemukan wawasan fundamental, tambahan pengetahuan dan kekuatan
Berlokasi di Museum Island, museum Berlin Pergamon adalah salah satu museum terkenal yang banyak di kunjungi oleh turis yang berkunjung di kota tersebut. Menggelar pameran “Babylonia – Mitos dan Kebenaran”, suatu proyek komunitas dunia.
Benda-benda berharga tersebut milik Museum Pergamon, sebagaimana juga artifak berharga lainnya yang dipinjam dari museum-museum lain, juga ikut dipamerkan dalam pameran ini, termasuk dari Louvre di Paris, British Museum di London dan Stattliche Museum di Berlin.
Pengunjung banyak berdatangan. Setelah melewati pintu depan Ischtar yang sangat mengesankan, mereka memandang lepas jalannya prosesi Babylonia sepanjang 30 meter dan memulai penjelajahan ke dunia lain.
Tema bagian pertama adalah “Realitas”. Lebih dari 800 obyek budaya mengundang pengunjung untuk mengetahui budaya Babylonia, salah satu kebudayaan kuno di Asia timur yang terkenal.
Obyek budaya tersebut di bagi dalam 10 topik yang berbeda, seperti patung, relief, sesaji upacara keagamaan, potongan karya arsitektur, kitab suci bangsa Babylonia dan berbagai macam perkakas kebudayaan kuno.
Penguasa Babylonia
Saat memasuki seksi yang berjudul “Kerajaan”, pengunjung diajak untuk mempelajari para penguasa Babylonia, dimulai dengan Hammurabi (1792 – 1750 SM) raja Babylonia ke-6. Setelah memegang kekuasaan selama 30 tahun, Hammurabi melalui kampanye militernya berhasil menyatukan sejumlah kerajaan yang ada di sekitar wi-layahnya dan menjadi raja pertama dalam Kekaisaran Babylonia.
Hammurabi boleh jadi sangat menguasai pengembangan bidang hukum selama ia berkuasa dan dikenal dengan Kode Hammurabi. Kode ini mengedepankan prinsip “Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi”. Ini merupakan kode hukum yang paling tua dan paling komplit dari zaman kuno. Tertera di atas kolom setinggi 2,25 meter, namun juga tersedia salinannya yang ditempatkan setinggi mata agar lebih jelas untuk mengamati.
Babylonia berkembang menjadi sebuah kekuatan yang sangat berpengaruh di Asia Timur kuno melalui cara kampanye militernya. Pada bagian dalam pameran ini juga memperlihatkan informasi sejarah pasca Babylonia atau para penguasa Chaldean.
Pajangan berikutnya menyajikan tentang dunia arsitektur, religi, perundangundangan dan hukum, aktivitas bisnis, kehidupan sehari-hari dan juga tempat suci Babylonia, yang selanjutnya menye-diakan pengunjung resensi sejarah yang luas dari kebudayaan Babylonia dan perkembangannya.
Bahasa tulisan Babylonia terdiri dari 600 hieroglyphs (tulisan gambar) yang berbeda. Mereka dapat bertahan dalam bentuk tulisan kuno berbentuk baji, yang ditulis di atas lempengan tanah liat, batu dan pilar. Prasasti tersebut tertulis pada batu atau lemping, dengan cara digores atau dipahat permukaannya.
Membutuhkan hampir 10 tahun pendidikan untuk mempelajari seluruh 600 hieroglyphs, dan sangat sedikit pakar Babylonia yang menguasainya.
Menara Babel
Pengunjung dapat mengamati perkembangan budaya Babylonia dengan mengamati struktur bangunan. Dengan sebuah dinding dalam ganda, sebuah tembok luar yang melingkari pinggiran sungai timur, dan sebuah benteng di bagian utara kota, menjadikan Babylonia sebagai kota yang sangat terlindung pada zaman itu.
Dengan begitu banyaknya bangunan yang berbeda tipe dan juga proyek-proyek konstruksi lainnya, para leluhur merasa itu seharusnya termasuk dalam salah satu keajaiban dunia.
Banyak bangunan yang di persembahkan untuk Marduk, dewa pelindung Babylonia. Meskipun pada awalnya dia dihormati sebagai dewa pelindung sebuah kota kecil, namun selanjutnya dia dipuja sebagai dewa yang tertinggi.
Banyak cerita dan seni yang dilakukan untuk memuja Marduk. Menara Babel juga dikenal dengan “Zikkurat of Etemenanki” adalah persembahan untuk Marduk.
Penggalian arkeologi 1913, untuk fondasi kuil memberi kepastian akan keberadaan menara ini. Peristiwa penting sejarah dalam Alkitab, juga dipresentasikan dalam pameran. Beberapa diantaranya ditunjang oleh bukti arkeologis sedang beberapa lainnya tidak.
Sebagai contoh catatan dalam Alkitab kisah menara Babel sampai kini tidak cukup mendukung, tetap ditemukan beberapa kebenaran.
Menara “Etemenaki” pada kenyataannya pernah ada. Memiliki ketinggian 92 meter dan diketahui pada saat itu adalah bangunan yang tinggi.
Juga menurut riset, pertama dapat dilacak naskah sistem penulisan bangsa Sumerian, yang berkembang 5000 tahun lalu. Bangsa Sumerian dipertimbangkan sebagai leluhur bangsa Babilonia.
Bangsa Babylonia korup dan mengalami kemerosotan moralitas
Bagian kedua pameran tersebut diberi judul “Mitos”. Di sini, bagian yang dilalui mengambil petikan dari Alkitab, para penyelenggara pameran memperlihatkan aneka ragam kepercayaan dan penafsiran pentingnya sejarah Babylonia melalui penyelamatkan seni dan budaya pada saat ini.
Referensi seperti “Babylonian Jumble of Voices,” “Harlot Babylon,” “Babylon’s Gomorrah”, dan lokasi wahyu diperkenalkan dan di bahas.
Karena pemahaman yang berkaitan dengan deskripsi Alkitab mengenai Babylonia seringkali dibandingkan dengan norma-norma masyarakat saat itu, maka dimana terdapat berbagai macam tafsiran pada masa itu.
Keturunan budak hitam di Jamaika dan anggota gerakan Rastafarian menemukan adanya persamaan antara perbudakan bangsa Babylonia dari orang Israel, sebagaimana yang dijelaskan dalam Alkitab, dengan pendeportasian leluhur bangsa Afrika ke Amerika. Pemakaian istilah “sistem Babylonia” adalah merujuk pada korupsi di orang Barat atau dunia kulit putih.
Konsep ini tersebar melalui musik reggae, dan pada masa “sistem Babylonia” ini, dapat dikonotasikan pada eksploitasi, penindasan, kemerosotan, materialisme, konsumerisme, pencarian sta-tus, korupsi, egoisme, kebodohan dan kebencian antar sesama manusia, sebagaimana halnya konsep rasis dan fasis.
Terdapat sembilan seksi pada bagian kedua pameran tersebut. Video dan karya seni klasik dihadirkan sebagai contoh moralitas dan penyelewengan, fiksi dan realitas, harapan dan kegelisahan, pemujaan dan pemberontakan.
Sebagai contoh menara Babel mewakili keangkuhan dan jalan kecil yang sarat dengan dukacita dan kesakitan. Masih pada waktu yang sama, juga ditampilkan pencarian terhadap pengetahuan, pencerahan, harapan dan keyakinan.
Dengan kata lain, simbolisme dari Menara tersebut adalah sebagai peringatan ketika berjalan sampai di jurang yang sangat dalam, seharusnya mendengarkan hati nurani, membatasi diri, dan mengangkat diri sendiri pada tingkat pencerahan yang lebih tinggi. Pameran Babylonia menunjukkan aspek mendalam pada pengalaman manusia.
Pelukis dan pemahat Inggris yang terkenal John Martin (1789 – 1854) melukiskan konsep tentang Babylonia sebagai tempat dimana seorang manusia menghadapi konflik dan kesangsian dalam dirinya, membawa pada keinginan untuk menyadari nafsunya versus pengakuan akan kebutuhan pengendalian diri.
Dalam pandangan ini, Babylonia memiliki hubungan yang mendalam untuk kita semua, ketika mempertimbangkan dari sebuah prespektif sejarah. Mengamati dengan bijaksana pada pameran yang luarbiasa ini, dapat mempelajari lebih lanjut kedalam paradok Babylonia untuk menemukan wawasan fundamental, tambahan pengetahuan dan kekuatan
Babylonia
Ahli astronomi bangsa Babylonia telah lama dikenal unggul di dunia peradaban kuno. Beberapa ribu tahun sebelum Copernicus, mereka telah menyadari bahwa bumi dan planet-planet lain berbentuk bulat dan bahwa mereka berputar mengelilingi matahari. Dengan pengetahuan ini mereka dapat secara akurat memprediksi gerhana matahari dan bulan. Banyak pelajar modern berasumsi bahwa bangsa Babylonia membangun ilmu astronomi mereka sendiri, untuk memenuhi kebutuhan akan perhitungan yang akurat dari ilmu astrologi mereka yang kompleks. Secara mengejutkan, hasil terjemahan teori bangsa Babylonia baru-baru ini mengindikasikan bahwa posisi dan pergerakan dari bintang dan planet dihitung berdasarkan persamaan yang kompleks dari peradaban Bangsa Sumeria. Bangsa babylonia nampaknya tidak memiliki pemahaman tentang teori dasar dari formula ini, hanya mengetahui bagaimana menggunakannya saja.
Bangsa Sumeria bahkan memiliki ilmu pengetahuan yang lebih tepat mengenai sistem solar dan posisinya di semesta daripada mewarisi Bangsa babylonia yang mendahului mereka. Penanggalan mereka direncanakan kurang lebih awal tahun 3000SM. Apakah model tersebut untuk penanggalan saat ini, dan mereka terbukti mengerti beberapa masalah astronomi yang lebih rahasia.
Misalnya tentang rotasi bumi, perputarannya bergoyang tidak selalu tepat pada porosnya, hal ini menyebabkan pergeseran secara perlahan-lahan -1 derajat setiap 72 tahun- mempengaruhi arah sumbu utara bumi. Fenomena ini dinamakan perputaran gasing. Great Year- atau waktu yang dibutuhkan sumbu utara-selatan bumi sampai ke tempatnya semula - adalah 25.921 tahun, dihitung dengan mengalikan waktu 72 tahun yang dilewati untuk bergeser di masing-masing derajat dengan 360 derajat pada perputaran penuh. Bangsa Sumeria mengerti tentang perputaran gasing ini dan mengetahui seberapa panjang Great Year – pekerjaan yang luar biasa, telah memberikan pengamatan sangat panjang yang rumit dan peralatan yang memadai.
Bangsa Sumeria juga mampu mengukur jarak antar bintang dengan sangat tepat. Namun bagaimana mungkin manusia pra teknologi mempelajari batas-batas bumi, dan bahkan lebih misterius, mengapa? Seperti juga peta bintang-bintang yang jelas-jelas sesuatu hal yang dibutuhkan bagi penjelajah luar angkasa, namun untuk apa bangsa Sumeria membuatnya?
Bangsa Sumeria bahkan memiliki ilmu pengetahuan yang lebih tepat mengenai sistem solar dan posisinya di semesta daripada mewarisi Bangsa babylonia yang mendahului mereka. Penanggalan mereka direncanakan kurang lebih awal tahun 3000SM. Apakah model tersebut untuk penanggalan saat ini, dan mereka terbukti mengerti beberapa masalah astronomi yang lebih rahasia.
Misalnya tentang rotasi bumi, perputarannya bergoyang tidak selalu tepat pada porosnya, hal ini menyebabkan pergeseran secara perlahan-lahan -1 derajat setiap 72 tahun- mempengaruhi arah sumbu utara bumi. Fenomena ini dinamakan perputaran gasing. Great Year- atau waktu yang dibutuhkan sumbu utara-selatan bumi sampai ke tempatnya semula - adalah 25.921 tahun, dihitung dengan mengalikan waktu 72 tahun yang dilewati untuk bergeser di masing-masing derajat dengan 360 derajat pada perputaran penuh. Bangsa Sumeria mengerti tentang perputaran gasing ini dan mengetahui seberapa panjang Great Year – pekerjaan yang luar biasa, telah memberikan pengamatan sangat panjang yang rumit dan peralatan yang memadai.
Bangsa Sumeria juga mampu mengukur jarak antar bintang dengan sangat tepat. Namun bagaimana mungkin manusia pra teknologi mempelajari batas-batas bumi, dan bahkan lebih misterius, mengapa? Seperti juga peta bintang-bintang yang jelas-jelas sesuatu hal yang dibutuhkan bagi penjelajah luar angkasa, namun untuk apa bangsa Sumeria membuatnya?
Langganan:
Postingan (Atom)